Published On: 14 December 2023Categories: Berita, Headline

Foto: Rombongan BBPMP Sulawesi Selatan Melakukan Uji Patok WBBM ke BBPMP Jawa Tengah untuk Tingkatkan Kinerja Pelayanan Publik, Rabu (12/12//2023).

Semarang – –  Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulawesi Selatan melakukan kunjungan studi patok ke BBPMP Jawa Tengah pada Kamis (14/12/2023) mengenai implementasi Kebijakan Merdeka Belajar, WBBK, WBBM SPI.

Tim perwakilan dari BBPMP Sulsel disambut di ruang WBBBM oleh tim RBI dan SPI BBMP Jateng, kegiatan ini adalah upaya bersama untuk meningkatkan kualitas layanan publik dan efektivitas program pendidikan dan layanan pendidikan bermutu.

Andi Mahyudin, perwakilan dari BBPMP Sulsel, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kunjungan patok ini mencakup sejumlah aspek kunci dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

“Dalam rangka penjaminan mutu, fokusnya termasuk Pelayanan Publik, Ult, penugasan BBPMP, Reward pegawai, pengembangan kompetensi pegawai, mekanisme kerja, capaian program Merdeka Belajar, advokasi PBD di atas 90%, hingga pencapaian dalam pengisian dashboard UPT PSP, IKM, AN, PGP, Inklusi, serta reformasi birokrasi Internal (RBI) dan Sistem Penjaminan Internal (SPI)”. Jelasnya.

Mahyudin menambahkan, dengan mengidentifikasi berbagai aspek ini, BBPMP Sulsel berupaya untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kinerja dan pencapaian dalam sistem pendidikan.

“Melibatkan parameter seperti capaian program Merdeka Belajar, advokasi terkait PBD, dan pengisian dashboard memberikan landasan yang kokoh untuk evaluasi dan pengambilan keputusan strategis yang dapat membawa dampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Selatan”. Jelasnya lagi.

Alif Nurhidayati, Kapokja 2 BBPMP Jateng, menjelaskan kepada rombongan BBPMP Sulsel tentang praktik baik yang dijalankan dalam program Merdeka Belajar di 35 Kabupaten/Kota. Dalam menjalankan tugasnya, Alif memberikan penjelasan mendalam tentang berbagai praktik terbaik yang telah diterapkan dalam konteks Merdeka Belajar.

“Fokusnya terutama pada peran sentral Kapokja dan Waliwilayah dalam mengawal kegiatan di daerah”. Ungkapnya.

Dalam menjelaskan praktik baik ini, Alif menegaskan bahwa peran Kapokja menjadi kunci dalam memastikan implementasi program Merdeka Belajar berjalan sesuai rencana di tingkat kabupaten/kota.

“Kapokja berfungsi sebagai koordinator yang menghubungkan antara BBPMP Jateng dan daerah, memastikan bahwa setiap tahapan dan kegiatan dijalankan dengan baik. Begitu juga, Waliwilayah memegang peran penting dalam memfasilitasi dan mendukung keberhasilan Merdeka Belajar di tingkat daerah”. Ungkapnya lagim

Pendekatan yang melibatkan Kapokja dan Waliwilayah sebagai bagian integral dari pelaksanaan Merdeka Belajar menjadi strategi yang efektif dalam memastikan keberlanjutan dan kesinambungan program di seluruh wilayah kerja BBPMP Jateng.

“Sinergi yang kuat antara BBPMP Jateng, Kapokja, dan Waliwilayah akan terus memperkuat implementasi Merdeka Belajar untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan di Jawa Tengah dalam mencapai tagihan isian dashboard”. Tambahnya.

Putut yang mewakili Tim RBI menjelaskan implementasi WBBK (Wilayah Birokrasi Bersih Melayani) yang dibangun oleh BBPMP Jateng sejak Agustus 2017, sebagai komitmen untuk meningkatkan tata kelola organisasi.

“Ada lima area utama dalam WBBK, termasuk manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM aparatur, akuntabilitas kinerja, dan penguatan pengawasan”. Ujarnya.

Putut menjelaskan bahwa BBPMP Jateng berhasil mencapai Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBK) pada tahun 2021, dan pada tahun 2022, layanan publik mereka mendapatkan kategori paripurna dalam WBBM. Pencapaian ini terus ditingkatkan, dan pada tahun 2023, BBPMP Jateng kembali menerima berbagai penghargaan dari Kemendikbudristek.

“BBPMP Jateng juga menegaskan komitmen integritas mereka dengan adanya Komite Integritas atau Tim Tangguh yang terus bekerja untuk menjaga kualitas dan kecermatan penyelenggaraan pemerintahan”. Ujarnya lagi.

Sudaryanta, yang menjelaskan peran Sistem Penjaminan Internal (SPI) dalam pengembangan BBPMP, menyatakan bahwa SPI ini diinisiasi melalui pembentukan Waliwilayah, menggantikan numenklatur sebelumnya.

“Pola kerja SPI terbentuk melalui Kapokja, memastikan kerja sama terstruktur dan efektif dalam menyampaikan informasi dan tugas ke daerah”. Jelasnya.

Ia mengatakan pentingnya SPI dalam konteks ini tidak hanya terletak pada pembentukan struktur, tetapi juga pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan numenklatur.

“Proses ini melibatkan pola kerja yang terkoordinasi, di mana Kapokja memainkan peran krusial dalam mengatur dan mengantarkan informasi ke Waliwilayah untuk disampaikan ke tingkat daerah,” ujar Sudaryanta.

Ia juga menegaskan bahwa SPI tidak hanya berfokus pada satu urusan, melainkan mampu menjalankan tugas dari berbagai bidang yang berbeda. Inilah yang membuat SPI menjadi elemen kunci dalam menjaga integritas dan kualitas dalam penyelenggaraan pemerintahan pendidikan di tingkat provinsi.

“Dengan kerja sama antara Kapokja, Waliwilayah, dan daerah, SPI memainkan peran vital dalam memastikan kelancaran dan efisiensi dalam pelaksanaan program dan kebijakan SPI di BBMP Jateng”. Tegasnya.

Agung, Kapokja Kemitraan BBPMP Sulsel, menanyakan pentingnya advokasi yang dijalankan dalam pengisian dashboard oleh BBPMP Jateng.

“Bagaimana membangun Kemitraan yang kuat antara BBPMP Jateng dengan daerah yang itu merupakan kunci sukses dalam melaksanakan advokasi terkait pengisian dashboard”. Ujarnya.

Ia juga menanyakan, bagaimana BBPMP Jateng dapat mendorong partisipasi aktif dari daerah dalam memastikan akurasi dan kelengkapan informasi yang masuk ke dalam dashboard seperti yang dilakukan BBPMP Jateng.

Alif merespon pertanyaan dan mengatakan tentang  pentingnya advokasi ini, BBPMP Jateng memberikan dukungan dan bimbingan kepada daerah dalam menjalankan tugas Waliwilayah, terutama terkait capaian program Merdeka Belajar dan berbagai indikator kinerja lainnya.

“Dengan sinergi yang baik antara BBPMP Jateng dan daerah, kita dapat memastikan bahwa data yang diisikan ke dalam dashboard benar-benar mencerminkan realitas di lapangan”. Tambahnya.

Ini tidak hanya membantu evaluasi kinerja, tetapi juga memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan strategis dalam pengembangan pendidikan.

Alif berharap bahwa dengan studi patok ini akan bisa diimplementasikan di BBMP Sulsel, dan kerjasama ini terus diperkuat untuk mencapai pencapaian yang lebih baik dalam mengoptimalkan fungsi dashboard sebagai alat penting dalam peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Selatan. Tambahnya