Kepala BBPMP Provinsi JawaTengah, Nugraheni Triastuti,SE, M.Si Saat Memberikan Sambutan Pembukaan Coaching Clinic Pengawas Pendamping Program Sekolah Penggerak pada hari Selasa (15/11/2022) di Aula Soekarno.

Semarang – – Program Sekolah Penggerak saat ini memasuki tahun ke 2, dan sudah perlu disiapkan strategi serah terima PSP Angkatan I kepada Pemda, harapnya pada tahun ke 3, yakni tahun 2023 Pemda sudah menganggarkan kegiatan, mempersiapkan dan mengalokasikan SDM. Khususnya SDM yang ditugasi dalam mendampingi dan memfasilitasi sekolah yakni pengawas/penilik, agar terjadi kesinambungan program dan kegiatan percepatan peningkatan mutu pendidikan ini.

Hal itu disampaikan oleh Kepala BBPMP Provinsi JawaTengah, Nugraheni Triastuti, SE, M.Si saat membuka Coaching Clinic Pengawas Pendamping Program Sekolah Penggerak Angkatan 1 Gelombang 2 yang di ikuti oleh pengawas dari 10 Kabupaten/Kota pelaksana Program Sekolah Penggerak (PSP) 1 pada hari Selasa (15/11/2022) di Aula Soekarno.

Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah sebagai Unit Pelaksana Teknis Kemdikbudristek perlu menyiapkan semua hal yang diperlukan oleh pengawas/penilik dalam Hand Over tugas fasilitasi sekolah penggerak ini dengan melakukan Konsultatif Asimetri dalam mengondisikan pemerintah daerah, agar menyiapkan strategi yang akan ditempuh untuk melanjutkan pengelolaan sekolah penggerak angkatan 1 khususnya berkaitan dengan 5 intervensi yang selama ini diberikan oleh Pusat. Sehingga setiap daerah yang program PSP bisa mencapai kondisi melembaga melalaui dukungan anggaran dan regulasi.

“BBPMP Provinsi JawaTengah memberikan Coaching Clinic kepada para pengawas sekolah, merupakan langkah strategis dalam menyiapkan Hand Over PSP angkatan 1 di 10 Kabupaten/Kota agar sejak awal memiliki kemampuan dalam fasilitasi program sekolah penggerak agar tetap menjadi sekolah bermutu dan menjadi rujukan sebagai sekolah model. Para pengawas yang mengikuti kegiatan ini bisa menjadi penerus peran fasilitator sekolah penggerak di setiap daerah sebagai Pelatih Ahli/fasiltator yang bertugas melakukan pendampingan kepada kepala sekolah , dan Pengawas/Penilik yang mendapatkan pelatihan dan pendampingan ini. Dan memperkuat 5 intervensi yaitu; pendampingan Konsultatif Asimetris, penguatan SDM sekolah, pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data dan digitalisasi sekolah. Semua itu akan terlaksana dengan baik bila daerah memberikan anggaran untuk pendampingan PSP dan regulasinya”. Pesannya.

Dwi Hery Nurhayanti, panitia Coaching Clinic Pengawas Pendamping Program Sekolah Penggerak menyampaikan bahwa kegiatan ini terbagi menjadi 2 gelombang, karena kapasitas yang tersedia bisa menampung 175 peserta, agar kegiatan ini bisa lebih fokus dan berkualitas maka perlu dibuat Coaching Clinic yang efektif dan hasilnya berkualitas.

“Kegiatan Coaching Clinic 2 gelombang ini terdiri dari masing-masing 175 pengawas, sehingga total 350 pengawas dari unsur Penilik Sekolah, Pengawas TK/SD/SMP dari Kabupaten Demak. Kabupaten Grobogan, Kabupaten Kendal, Kabupaten Klaten, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Sragen, Kota Solo, Kota Tegal, Kota Pekalongan serta Pengawas SLB dan SMA Provinsi JawaTengah”. Ujarnya.

Sri Hartatik salah satu narasumber coaching clinic dari BBPMP Provinsi JawaTengah menyampaikan bahwa materi Coaching Clinic disusun dengan model terpadu, artinya semua materi dibuat Struktur program selama 22 jam pelajaran dengan setiap jam sajian 60 menit yang dilaksanakan selama 3 hari, Metode/Pendekatan dalam kegiatan ini menggunakan pendekatan andragogi dengan menerapkan pola ceramah, tanya jawab, diskusi dan presentasi. Paparan isi dilakukan sebagai sisipan untuk memperkaya materi dalam proses diskusi atau pengambilan kesimpulan, sehingga dapat menghasilkan proses yang efektif dan efisien.

“Diharapkan kepada peserta setelah mengikuti Coaching Clinic ini agar bisa menjadi pendamping sekolah penggerak berikut aktivitasnya yang biasa dilakukan oleh Fasilitator Sekolah Penggerak (FSP) dan mengerti penggunaan berbagai platform digital bertujuan mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang disesuaikan kepada para guru disamping itu bisa melakukan  simulasi strategi dan jenis pendampingan yang diharapkan dilaksanakan oleh pengawas secara asimetris di setiap sekolah penggerak angkatan1 “. Tegasnya.

Alif Noor Hidayati, Widyaprada BBPMP Provinsi JawaTengah yang juga  menjadi narasumber kegiatan ini menyampaikan bahwa kegiatan Coaching Clinic para peserta ini agar ketika mendampingi di sekolah penggerak para pengawas memiliki berbagai pemahaman yang diperlukan ketika melakukan pendampingan sehingga bekal yang harus dikuasai dalam pendampingan memudahkan dalam pekerjaan untuk PSP di daerah dimana kualitas tetap terjaga apabila para guru tetap menggunakan platform pembelajaran mandiri, dan menerapkan prinsip pengajaran dan penilaian yang efektif dan
Murid menerima pembelajaran dari para guru dengan menggunakan paradigma baru.

“Tujuan Coaching Clinic Pengawas Pendamping Program Sekolah Penggerak agar para pengawas betul-betul memahami Kebijakan Kemendikbudristek dalam Bidang Pendidikan, Gambaran PSP Tahun III, Peran Pengawas dalam Pendampingan PSP, Strategi dan Teknik Pendampingan, Menguasai Teknik Coaching dan Mentoring, Memahami Efektifitas, Pembelajaran dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Memahami Digitalisasi Sekolah, Menyusun Evaluasi dan Pelaporan Pendampingan, Menyusun Rencana Tindak Lanjut. Kami berharap kepada peserta ketika nanti mendampingi PSP angkatan 1 di daerah bisa sukses dan lancar”. Harapnya.

Utomo Pengawas SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi JawaTengah, yang juga menjadi salah satu narasumber kegiatan coaching clinic ini menyampaikan peran pengawas dalam melaksanakan pendampingan sekolah penggerak, harus memiliki ilmu  strategi pendampingan dan efektivitas pembelajaran agar semua sekolah penggerak bisa berhasil sesuai dengan Visi Pendidikan Indonesia.

“Program Sekolah Penggerak (PSP) adalah upaya untuk menuju visi pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. PSP berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) serta karakter, diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru)”. Tegasnya.

Seperti diketahui Program Sekolah Penggerak (PSP) adalah program yang bermanfaat dalam: 1) meningkatkan hasil mutu pendidikan dalam kurun waktu 3 tahun ajaran; 2) meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan guru; 3) percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila; 4) percepatan digitalisasi sekolah; 5) kesempatan untuk menjadi katalis perubahan bagi satuan pendidikan lain; 6) mendapatkan pendampingan intensif untuk transformasi satuan pendidikan; dan 7) memperoleh tambahan anggaran untuk pembelian buku bagi pembelajaran kompetensi holistik.