Published On: 26 June 2023Categories: Artikel Pendidikan, Artikel Populer, Berita

Dr. Mampuono

(Tali Bambuapus Giri)

Pendahuluan

Pendidikan memainkan peran krusial dalam mengembangkan potensi manusia dan mempersiapkannya menghadapi tantangan di masa depan. Di era yang terus berkembang dengan pesat ini, masyarakat manusia sedang mengalami perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pendidikan, kebudayaan, teknologi, politik, ekonomi, kesehatan, sosial, dan lain-lain. 

Salah satu konsep yang tengah digaungkan saat ini adalah Masyarakat 5.0 (Society 5.0), yang mendorong integrasi teknologi digital dengan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran sentral dalam mempersiapkan generasi mendatang untuk hidup dan berkontribusi dalam Masyarakat 5.0 yang semakin maju dan kompleks.

Pembelajaran seumur hidup menjadi kunci dalam konteks pendidikan di Masyarakat 5.0. Pendidikan tidak lagi terbatas pada masa sekolah formal, tetapi meluas sepanjang kehidupan individu. Hal ini bertujuan agar individu terus mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan adaptasi dalam menghadapi perubahan yang dinamis. 

Guru memegang peran yang penting dalam memfasilitasi pembelajaran seumur hidup ini. Selain sebagai pengajar, guru juga berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang menginspirasi, membimbing, dan memberikan panduan kepada siswa. Guru memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan siswa pada teknologi terkini, memanfaatkan kemajuan teknologi dalam proses pembelajaran, dan membantu siswa mengembangkan keterampilan multidisipliner yang dibutuhkan di Masyarakat 5.0.

Namun, masih terdapat tantangan dalam mengoptimalkan budaya belajar di kalangan guru. Banyak guru yang belum sepenuhnya memanfaatkan potensi pembelajaran seumur hidup dan teknologi yang tersedia. Kurangnya pemahaman dan penguasaan terhadap perkembangan teknologi menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh sebagian guru. Oleh karena itu, perhatian dan kesadaran terhadap hal ini perlu ditingkatkan, termasuk dalam upaya memberikan pelatihan dan pengembangan keprofesian berkelanjutan  bagi guru. 

Dengan memperhatikan posisi guru dalqm mengatasi hambatan yang ada, pendidikan dapat berperan aktif dalam mempersiapkan generasi muda sebagai anggota yang kompeten dan adaptif di dalam Masyarakat 5.0. Guru sebagai agen perubahan dan inovasi pendidikan memiliki peranan penting dalam mendorong transisi ke pendidikan yang berfokus pada perkembangan keterampilan kolaboratif, penggunaan teknologi, dan pengembangan keterampilan multidisipliner pada siswa.

Masyarakat 5.0

Masyarakat 5.0 adalah konsep yang diusulkan oleh pemerintah Jepang untuk menggambarkan visi mereka tentang masyarakat masa depan yang berbasis pada kolaborasi antara manusia dan teknologi. Konsep ini merupakan kelanjutan dari konsep “Society 4.0” yang dikembangkan di Jerman, yang mengacu pada era revolusi industri  4.0 yang didorong oleh digitalisasi dan teknologi cerdas.

Masyarakat 5.0 menekankan pada peran penting manusia dalam menghadapi tantangan global dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup serta menciptakan masyarakat yang berkelanjutan. Ini melibatkan integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), robotika, dan sumber daya energi terbarukan ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk industri, transportasi, kesehatan, dan pendidikan.

Salah satu poin penting dalam konsep Masyarakat 5.0 adalah pemikiran bahwa teknologi harus digunakan untuk kepentingan manusia, dan bukan sebaliknya. Konsep ini mendorong pengembangan teknologi yang berfokus pada kebutuhan dan nilai-nilai manusia, serta memperhatikan dampak sosial, etika, dan keberlanjutan lingkungan.

Tujuan akhir dari Masyarakat 5.0 adalah menciptakan masyarakat yang menggabungkan kekuatan manusia dan kecerdasan buatan, di mana teknologi digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup, mengatasi kesenjangan sosial, dan menjaga keseimbangan dengan alam.

Meskipun konsep Masyarakat 5.0 pertama kali diajukan oleh pemerintah Jepang, ide-ide yang terkandung dalam konsep ini telah menarik minat dan perhatian global, dan negara-negara lain juga sedang menjelajahi cara untuk mengadopsi dan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam konteks masyarakat mereka sendiri.

Pendidikan dalam Masyarakat 5.0

Pendidikan dalam konteks Masyarakat 5.0 memegang peran sentral dalam mewujudkan visi tersebut. Perkembangan teknologi dan nilai-nilai manusia menjadi fokus utama dalam proses pembelajaran. Guru berperan sebagai agen perubahan dalam mengintegrasikan teknologi dan nilai-nilai manusia dalam pendidikan.

Pendidikan di Masyarakat 5.0 menekankan pada penggunaan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab, serta pengembangan keterampilan kritis, kreatif, dan kolaboratif yang sesuai dengan tuntutan zaman. Pembelajaran yang adaptif dan personal, dengan pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan, augmented reality, dan big data analytics, menjadi bagian integral dari pendidikan di era ini.

Namun, tantangan masih ada dalam mengadopsi dan memanfaatkan teknologi secara optimal. Pemahaman yang kurang tentang potensi teknologi dan keterampilan multidisipliner menjadi hambatan yang harus diatasi. Diperlukan perhatian dan kesadaran yang lebih besar dalam mengembangkan profesionalisme dan kompetensi yang relevan dengan Masyarakat 5.0.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, entitas pendidikan, dan masyarakat, pendidikan dapat menjadi pendorong utama dalam mempersiapkan generasi muda yang kompeten dan adaptif. Dengan memanfaatkan teknologi secara optimal, membentuk budaya belajar yang inklusif, dan memberikan dukungan yang tepat, pendidikan dapat menjadi pilar yang kuat dalam mencapai visi Masyarakat 5.0 yang berkelanjutan dan manusia-berpusat.

Peran Guru dalam Transformasi Pendidikan di Era Masyarakat 5.0

Pendidikan merupakan salah satu sektor yang mengalami transformasi signifikan dalam era Masyarakat 5.0. Perkembangan teknologi dan perubahan paradigma masyarakat telah mendorong pendidikan untuk beradaptasi dengan cepat agar dapat memenuhi tuntutan zaman. Dengan sendirinya pendidikan akan mengalami transformasi menuju pendidikan era Masyarakat 5.0.

Dalam transformasi pendidikan di era Masyarakat 5.0, peran guru menjadi sangat penting. Guru memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda sebagai anggota aktif dalam masyarakat yang berfokus pada kecerdasan kolaboratif, menggunakan pendekatan Pendidikan Berbasis Teknologi, mengembangkan keterampilan multidisipliner, dan mendorong pembelajaran seumur hidup. Dengan peran sentralnya, guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang relevan untuk menghadapi tantangan dan perubahan di dunia kerja yang dinamis.

Dalam uraian berikut, kita akan membahas aspek-aspek penting dalam transformasi pendidikan di era Masyarakat 5.0. Fokus utama akan diberikan pada kecerdasan kolaboratif, yang melibatkan kemampuan individu untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan pihak lain dalam mencapai tujuan bersama. Selanjutnya, akan dibahas pula pendekatan pendidikan berbasis teknologi yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Selain itu, kita juga akan menjelajahi pentingnya mengembangkan keterampilan multidisipliner yang melintasi berbagai bidang, serta perlunya pembelajaran seumur hidup agar individu dapat terus mengembangkan diri sepanjang hayat.

Kecerdasan Kolaboratif

Kecerdasan kolaboratif adalah kemampuan individu untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Ini tidak hanya terjadi dalam lingkungan perusahaan, tetapi juga dapat dimulai dan terjadi dalam pendidikan atau di sekolah.

Peran guru sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan kolaboratif pada para siswa. Guru harus menjadi fasilitator pembelajaran yang mengarahkan siswa dalam bekerja secara kolaboratif. Mereka dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kerja tim, saling berbagi pengetahuan, dan belajar dari pengalaman bersama.

Guru dapat memberikan tugas kolaboratif kepada siswa, seperti diskusi, proyek kelompok, atau simulasi yang memerlukan kerja tim. Mereka juga dapat mengajarkan keterampilan komunikasi yang efektif, pemecahan masalah bersama, dan kemampuan bekerja dalam tim. Dengan cara ini, siswa dapat mengembangkan keterampilan kolaborasi yang penting untuk mencapai kecerdasan kolaboratif.

Selain itu, guru memiliki peran dalam menciptakan budaya kolaboratif di kelas. Mereka dapat memfasilitasi interaksi antara siswa, mendorong kerja sama, dan mengapresiasi kontribusi setiap individu dalam kerja tim. Guru harus menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif, di mana siswa merasa didukung dan terlibat dalam proses kolaborasi.

Dalam mempersiapkan generasi muda sebagai anggota Masyarakat 5.0, peran guru sangat penting. Mereka harus menjadi fasilitator pembelajaran yang mengarahkan siswa dalam mengembangkan kecerdasan kolaboratif. Selain itu, perlu dilakukan upaya untuk membentuk budaya belajar di kalangan guru agar mereka terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Guru juga perlu dilengkapi dengan keterampilan teknologi yang diperlukan dan mampu membangun budaya kolaboratif di kelas.

Dengan peran guru yang optimal, generasi muda akan siap menghadapi dan berkontribusi dalam Masyarakat 5.0 yang semakin terhubung dan dinamis. Kecerdasan kolaboratif menjadi landasan penting dalam pendidikan untuk membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan dan karir di masa depan.

Pendidikan Berbasis Teknologi

Pendidikan di era Masyarakat 5.0 membutuhkan pendekatan yang berbasis teknologi guna mengoptimalkan proses pembelajaran. Kemajuan teknologi, seperti kecerdasan buatan, augmented reality, virtual reality, dan big data analytics, memiliki potensi besar dalam memperkaya pengalaman belajar siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang adaptif dan personal. Namun, dalam menerapkan pendidikan berbasis teknologi ini, peran guru menjadi sangat penting.

Meskipun teknologi dapat memberikan berbagai manfaat dalam proses pembelajaran, kenyataannya masih banyak guru yang belum sepenuhnya melek teknologi atau menghadapi kesenjangan teknologi. Faktor ini mengindikasikan perlunya perhatian dan kesadaran yang lebih besar terhadap pembekalan guru dengan pengetahuan dan keterampilan teknologi yang diperlukan. Guru perlu diberikan pelatihan dan sumber daya yang memadai agar mereka dapat menguasai teknologi dan mengintegrasikannya dengan baik dalam pembelajaran.

Sebagai fasilitator pembelajaran, guru memiliki peran yang tak tergantikan dalam mempersiapkan generasi muda sebagai anggota Masyarakat 5.0 yang kompeten. Guru berperan dalam membimbing siswa dalam memahami dan memanfaatkan teknologi dengan bijak. Mereka harus mengajarkan literasi digital kepada siswa, termasuk keterampilan kritis terhadap informasi, pemfilteran konten digital, serta pemahaman etika dalam penggunaan teknologi. Namun, untuk menjalankan peran ini dengan baik, guru juga harus memiliki pemahaman dan penguasaan teknologi yang memadai.

Untuk itu, diperlukan perhatian yang serius dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknologi guru. Pelatihan teknologi yang terarah, pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan teknologi, serta investasi dalam pengadaan sumber daya yang mendukung penggunaan teknologi dalam pembelajaran menjadi langkah yang perlu ditempuh. Kesadaran akan pentingnya melek teknologi dalam dunia pendidikan juga harus ditanamkan pada semua pihak terkait, termasuk lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan guru dapat memainkan peran krusial dalam mempersiapkan generasi muda sebagai anggota Masyarakat 5.0 yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Keterampilan Multidisipliner

Dalam era Masyarakat 5.0, tuntutan terhadap keterampilan individu semakin kompleks dan multidisipliner. Masyarakat mengharapkan individu memiliki kemampuan yang melintasi berbagai bidang, sehingga pendidikan perlu mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dalam mengembangkan keterampilan siswa. Hal ini melibatkan integrasi disiplin ilmu yang berbeda dan menghubungkan antara teori dan praktik dalam pembelajaran.

Guru memiliki peran kunci dalam mempersiapkan generasi muda dengan keterampilan multidisipliner yang dibutuhkan di Masyarakat 5.0. Mereka tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran yang menginspirasi siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti pemrograman, desain, manajemen proyek, kewirausahaan, dan lainnya. Guru perlu memiliki pemahaman yang mendalam dan kemampuan praktis dalam bidang-bidang ini untuk dapat membimbing siswa secara efektif.

Namun, masih banyak guru yang menghadapi tantangan dalam penguasaan keterampilan multidisipliner. Beberapa di antaranya mungkin belum terbiasa dengan penggunaan teknologi terkini atau kesulitan dalam melakukan multitasking. Oleh karena itu, perlu ada perhatian dan kesadaran terhadap kondisi ini. Dukungan dalam bentuk pelatihan dan pengembangan profesional perlu diberikan kepada guru agar mereka dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan.

Kesadaran akan pentingnya penguasaan keterampilan multidisipliner dan kemampuan multitasking perlu ditanamkan pada semua pihak terkait. Lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat secara keseluruhan perlu bekerja sama dalam menyediakan pelatihan, sumber daya, dan dukungan yang memadai untuk guru. Dengan adanya perhatian yang lebih besar terhadap pengembangan profesionalisme guru, mereka dapat memainkan peran yang efektif dalam mempersiapkan generasi muda sebagai anggota Masyarakat 5.0 yang memiliki keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja yang semakin dinamis.

Pembelajaran Seumur Hidup

Dalam Masyarakat 5.0, pembelajaran tidak lagi terbatas pada masa sekolah formal. Pendidikan seumur hidup menjadi penting untuk memastikan individu dapat terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka sepanjang hayat. Individu perlu memiliki aksesibilitas dan kesempatan untuk mengikuti program pembelajaran yang relevan dan mendapatkan pengakuan atas pencapaian mereka.

Peran guru dalam mempersiapkan generasi muda sebagai anggota Masyarakat 5.0 sangatlah penting. Guru bukan hanya menjadi pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran yang menginspirasi dan membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan sepanjang hidup mereka. Guru memiliki peran sentral dalam menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, memberikan panduan, serta memfasilitasi kesempatan untuk berpartisipasi dalam program pembelajaran seumur hidup.

Namun, masih terdapat tantangan dalam optimalisasi budaya belajar di kalangan guru. Banyak guru yang belum sepenuhnya memanfaatkan potensi pembelajaran seumur hidup dan teknologi yang tersedia. Perhatian dan kesadaran terhadap hal ini perlu ditingkatkan. Guru perlu didorong untuk terus meningkatkan ketrampilan mereka dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan, serta memperoleh pemahaman dan penguasaan teknologi yang diperlukan.

Menghadapi tantangan ini, perlu adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Pelatihan dan pengembangan keprofesian berkelanjutan  harus menjadi bagian dari pendekatan pendidikan guru. Lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat perlu bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung dan mendorong guru untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan mereka. Dengan memperhatikan peran guru dan mengatasi hambatan yang ada, kita dapat memastikan bahwa pendidikan seumur hidup menjadi kenyataan dalam Masyarakat 5.0, sehingga generasi muda siap menghadapi tuntutan yang semakin kompleks di dunia kerja yang berkembang pesat.

Penutup

Pada era Masyarakat 5.0, peran guru menjadi sangat penting dalam mewujudkan transformasi pendidikan yang diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator dan pemandu dalam mengarahkan siswa untuk mengembangkan kecerdasan kolaboratif, menguasai teknologi sebagai alat pembelajaran, mengembangkan keterampilan multidisipliner, dan memperkuat semangat pembelajaran seumur hidup. Dengan bimbingan dan dukungan guru yang baik, individu dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan Masyarakat 5.0, sehingga siap menghadapi perubahan dan berkontribusi dalam masyarakat yang semakin maju.

**’

(Penulis, Dr. Mampuono, M. Kom. adalah widyaprada BBPMP Jawa Tengah, Ketum PTIC, Perkumpulan Teacherpreneur Indonesia Cerdas, dan penggerak literasi dengan Strategi Tali Bambuapus Giri atau implementasi literasi produktif bersama dalam pembuatan pustaka digital mandiri berbasis AI dengan memberdayakan metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Penulis juga pernah menjadi juara Guru Inovatif Asia Pasific Microsoft yang terus berbagi tentang penggunaan ICT Based Learning ).

 

Referensi

World Economic Forum. (2018). The Future of Jobs Report 2018. Diakses dari https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report-2018

European Commission. (2020). Shaping Europe’s Digital Future. Diakses dari https://digital-strategy.ec.europa.eu/en/policies/shaping-europes-digital-future

UNESCO. (2020). Futures of Education: Learning to Become. Diakses dari https://en.unesco.org/futuresofeducation/

Dede, C. (2017). The Role of Digital Technologies in Deeper Learning. Phi Delta Kappan, 99(2), 28-33.

Fullan, M. (2020). The New Pedagogies of Deep Learning. International Journal of Educational Research, 100, 101524.

OECD. (2019). OECD Future of Education 2030: Conceptual Learning Framework. Diakses dari http://www.oecd.org/education/2030-project/teaching-and-learning/learning/

Kirschner, P. A., & Merriënboer, J. J. G. (2013). Do Learners Really Know Best? Urban Legends in Education. Educational Psychologist, 48(3), 169-183.

Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. John Wiley & Sons.

Selwyn, N. (2016). Is Technology Good for Education? Polity Press.

Johnson, L., Adams Becker, S., Estrada, V., & Freeman, A. (2015). NMC Horizon Report: 2015 Higher Education Edition. Diakses dari https://library.educause.edu/resources/2015/2/2015-nmc-horizon-report