Published On: 29 October 2023Categories: Berita, Feature Motivasi, Headline

Oleh : Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo) 

Ditulis dengan strategi Tali BambuApus Giri

Dalam kehidupan ini, seringkali kita lupa betapa kuatnya pengaruh kata-kata dan ucapan kita terhadap diri sendiri dan orang lain. Salah satu ungkapan bijak yang patut kita renungkan adalah bahwa “Lidahmumu adalah  gambaran bagaimana hatimu”. Ini adalah pengingat bahwa perkataan kita, entah itu dalam bentuk pujian, kritik, atau apapun bentuk ungkapannya, kata-kata itu mampu mencerminkan isi hati kita.

Lidah adalah alat yang digunakan untuk berbicara dan berkomunikasi, dan cara kita berbicara adalah cerminan dari apa yang ada di dalam hati. Jika hati kita penuh dengan cinta, toleransi, dan kebaikan, maka lidah kita akan mencerminkan hal tersebut dalam kata-kata yang kita ucapkan. Sebaliknya, jika hati kita dipenuhi oleh kemarahan, kebencian, atau ketidakpuasan, maka lidah kita juga akan mencerminkan perasaan negatif tersebut.

Dalam setiap percakapan dan interaksi, kita memiliki kesempatan untuk membentuk dunia sekitar kita dengan kata-kata kita. Kita dapat memberikan dukungan kepada teman-teman kita dengan kata-kata yang penuh semangat dan kasih sayang. Kita juga dapat membentuk hubungan yang lebih baik dengan orang lain dengan berbicara dengan penuh pengertian dan empati.

Sebaliknya, dalam setiap percakapan dan interaksi, kita juga memiliki kesempatan untuk merusak dunia sekitar kita dengan kata-kata kita. Kita dapat menyakiti perasaan teman-teman kita dengan kata-kata yang kasar dan merendahkan. Kita juga dapat merusak hubungan dengan orang lain jika berbicara tanpa pengertian dan empati.

Kata-kata adalah  alat komunikasi paling kuat yang dimiliki manusia, dan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia, ungkapan dan kata-kata yang digunakan oleh individu mencerminkan perasaan, nilai, dan identitas mereka. Kita semua, sebagai manusia, memahami bahwa kata-kata yang keluar dari mulut seseorang adalah jendela ke dalam dunia batin dan emosional mereka, sehingga memahami arti “Lidah adalah gambaran hati” menjadi penting dalam konteks budaya dan komunikasi lintas bangsa.

Tidak heran bahwa hampir setiap budaya di seluruh dunia memiliki pepatah atau peribahasa yang merujuk pada lidah sebagai gambaran hati seseorang. Ini mencerminkan pengakuan universal akan kekuatan kata-kata dalam membentuk hubungan antarmanusia dan mengekspresikan karakter seseorang. Sebagaimana pepatah-pepatah seperti “mulutmu harimaumu,” atau “diam  itu  emas,” semuanya memberikan pengingat bahwa kebijaksanaan dalam berbicara dan menghindari kata-kata yang toxic adalah esensial untuk menjaga hubungan yang sehat dan berarti dalam kehidupan kita. 

Dalam dunia yang semakin terkoneksi, pesan ini menegaskan pentingnya berbicara dengan penuh tanggung jawab, empati, dan perasaan untuk menciptakan komunikasi yang positif dan saling pengertian di antara berbagai budaya dan masyarakat. Berikut adalah berbagai pepatah yang ada di sepuluh negara terkait lidah sebagai gambaran hati. Mari kita pelajari. 

Yang pertama dari Jepang, kita bisa memetik pepatah bijak: “Kotoba wa hamono no yō ni surudoi, sono kokoro wa te no yō ni kantan ni kizutsuku.” Artinya, “Kata-kata itu tajam seperti pisau, dan hati seseorang mudah terluka seperti tangan.”

Yang kedua, orang Uzbekistan memiliki pepatah yang mengatakan, “Dilining tili va haqiqiy unga to’g’ri keladi.” Terjemahannya adalah, “Lidah adalah kunci yang membuka pintu ke dalam hati yang sebenarnya.”

Ketiga, orang Sudan memberikan kita pepatah yang menekankan pentingnya kata-kata baik: “Alkalimat atayibah ka shajaratin tayibatin tuthmiru fakhatiratin tayibatin.” Ini berarti, “Kata-kata baik seperti pohon yang baik, mereka menghasilkan buah yang baik.”

Keempat, dari budaya Maori di Selandia Baru, ada pepatah yang menekankan pentingnya hubungan manusia: “He aha te mea nui o te ao? He tangata, he tangata, he tangata.” Artinya, “Apa yang paling penting di dunia? Manusia, manusia, manusia.” Dengan kata-kata dan hubungan yang baik, kita membangun dunia yang lebih baik.

Kelima, orang Spanyol mengatakan, “En boca cerrada no entran moscas.” Artinya, “Di mulut yang tertutup, lalat tak masuk.” Pesan di sini adalah bahwa kita bisa menghindari kesalahan dengan tidak terlalu banyak berbicara.

Yang keenam, dari Arab ada istilah “الكلمة الطيبة صدقة.” (Alkalimatul thoyyibah shodaqoh) “Kata baik adalah sedekah.” Pepatah ini mengingatkan kita bahwa kata-kata baik dan penyemangat adalah bentuk sedekah yang bernilai.

Ketujuh, dalam budaya Turki orang mengungkapkan, “Dilin altındaki bakla, kaşın üstündeki safa.” Artinya, “Kacang di bawah lidah, jari di atas alis.” Pesan dalam pepatah ini adalah pentingnya merenungkan kata-kata sebelum mengucapkannya.

Kedelapan, orang  Yahudi berkata,  “מילים הן אבני בניין, יש להן גם כוח של נטיה.” (Milim hen avney binyan, yesh lahen gam koach shel nitah.) Artinya, “Kata-kata adalah batu bata, tetapi mereka memiliki kekuatan struktural.” Ini mengingatkan kita akan kekuatan kata-kata dalam membangun atau meruntuhkan hubungan.

Kesembilan, orang Korea lebih suka mengatakan, “입에 풀칠때면 닫아 라.” (Ipe pulchilddae myeon datara.) Artinya, “Ketika mulut penuh dengan rumput, tutuplah.” Pesan dalam pepatah ini adalah ketika kita tidak memiliki sesuatu yang positif atau bijak untuk dikatakan, lebih baik diam.

Dan kesepuluh, orang India berkata, “वचनात् जयते यया वक्” (Vachanat Jayate Yaya Vak). Artinya, “Dia yang bisa berbicara dengan bijak adalah yang menang.” Pepatah ini menekankan pentingnya berbicara dengan bijak dan penuh pemahaman sehingga akhirnya kemenangan dalam berkomunikasi atau berdiplomasi diperoleh.

Semua pepatah ini menekankan pentingnya berbicara dengan bijak, mendengarkan dengan seksama, dan menggunakan kata-kata kita untuk membangun hubungan yang kuat. Berbicaralah dengan hati yang tulus dan bijak, karena kata-kata memiliki dampak yang besar dalam kehidupan kita.

Yang paling penting adalah bahwa kita memiliki kendali atas hati kita sendiri. Kita bisa merawat hati kita agar selalu dipenuhi oleh cinta, kebaikan, dan rasa syukur. Dengan hati yang baik, lidah kita akan menjadi alat untuk menyebarkan kebaikan dan inspirasi.

Jadi, mari kita selalu ingat bahwa setiap kata yang kita ucapkan adalah cerminan dari hati kita. Dengan lidah yang positif, kita dapat menginspirasi dan memotivasi diri sendiri serta orang lain untuk mencapai hal-hal besar. Jadikan kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah berkah, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan. Jangan sebaliknya. Mulailah hari ini dengan hati yang tulus dan lidah yang penuh dengan kata-kata yang memotivasi dan menginspirasi!

***

(Penulis, Dr. MRT atau Dr. Mampuono R. Tomoredjo, M. Kom. adalah widyaprada BBPMP Jawa Tengah, Ketum PTIC (Perkumpulan Teacherpreneur Indonesia Cerdas), dan penggerak literasi dengan Strategi Tali Bambuapus Giri atau Implementasi Literasi Produktif Bersama dalam Pembuatan Pustaka Digital Mandiri Berbasis AI dengan memberdayakan metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Penulis juga pernah menjadi juara Guru Inovatif Asia Pasific Microsoft yang terus berbagi tentang penggunaan ICT Based Learning ).