Published On: 2 March 2023Categories: Cerpen, Dongeng, Pojok Sastra

Oleh: Dr. Mampuono

(Tali Bambuapus Giri)

 

Pada suatu hari, ada seekor belalang yang sangat suka bergunjing. Dia merasa bahwa dia adalah makhluk paling pandai dan paling sempurna di hutan. Setiap hari, dia selalu mengunggul-unggulkan dan memuji dirinya sendiri dihadapan semua hewan di sekitarnya. Dia selalu merasa bahwa dia adalah belalang terbaik di hutan itu dan selalu mengolok-olok dan meremehkan makhluk lain, termasuk tujuh lebah madu yang tinggal bersarang di kawasan hutan Bangetayu itu.

Belalang itu selalu mengganggu para lebah dengan omongannya yang tidak penting dan menyakitkan. Ia suka bercerita tentang hal-hal yang tidak relevan dengan pekerjaan mereka dan ceritanya tentang hewan-hewan yang lain  selalu bernada negatif.

Karena kebiasaan belalang itu dirasa  mengganggu, para lebah seringkali merasa tersinggung dan kesal. Namun, mereka tidak ingin membuat masalah lebih lanjut dengan belalang tersebut, jadi mereka hanya diam dan berusaha menghindari konfrontasi dengan belalang.

Suatu hari, tujuh  lebah madu sedang bekerja keras mengumpulkan nektar dari bunga-bunga di hutan. Mereka bekerja dengan tekun dan disiplin, sehingga berhasil mengumpulkan banyak madu yang berkualitas tinggi. Saat itu belalang itu tiba-tiba mendatangi sarang lebah dan bertengger di salah satu dahan pohon trembesi yang tumbuh persis di hadapan sarang lebah madu. Sambil tiduran dengan berbantalkan tangan kanannya mulutnya mulai nyerocos, bergunjing mengolok-olok mereka.

Dia berkata, “Kalian ini makhluk terbang yang bodoh. Kalian ini bekerja sepanjang hari cuma untuk membuat madu, sementara saya bisa bersantai-santai dan menikmati hidup!”

Mereka berusaha bersabar dan tidak terpengaruh oleh arogansi dan kesombongan belalang. Sebaliknya, mereka sepakat nanti pada saat yang tepat akan mengajari belalang sebuah pelajaran agar dia sadar dan kembali ke jalan yang benar. Maka ketika belalang mulai bergunjing, para lebah madu mulai memberikan alasan-alasan yang bertentangan dengan apa yang dikatakan belalang. Mereka membantah dengan halus setiap kata yang diucapkan belalang.

Ketujuh lebah kemudian juga memperlihatkan pada belalang betapa pentingnya madu yang mereka hasilkan. Mereka mengajarkan belalang tentang nilai gizi yang terkandung dalam madu dan manfaatnya untuk kesehatan. Mereka juga menunjukkan bagaimana cara mereka bekerja dengan tim dan saling membantu satu sama lain sehingga sukses.

Belalang semakin marah dan merasa dihina. Dia tidak bisa menerima bahwa ada hewan lain yang lebih pandai darinya. Belalang justru semakin nekat dan semakin memperolok dan menyinggung-nyinggung ketujuh lebah madu.  Bahkan provokasinya sampai menyebut-nyebut nama orang tua dan leluhur ketujuh  lebah yang tidak sebanding dengan keutamaan dirinya dan garis keturunannya.

Mendengar olok-olokan belalang yang semakin menekan dan tajam, ketujuh lebah madu akhirnya terprovokasi dan  merasa tersinggung juga. Bahkan sebagian mulai ada yang hilang kesabaran.

“Kakak-kakak dan adik-adik. Sepertinya pelajaran secara halus tidak mempan.  Bagaimana kalau belalang ini kita beri pelajaran lebih keras?” kata lebah keempat  sambil berbisik kepada kakak-kakak dan adik-adiknya

Lebah nomor tiga  yang tidak sabaran segera merespon usulan adiknya tersebut. “Cocok!”  sahutnya cepat. “Adik keempat. Bagaimana jika belalang ini dihajar saja biar tidak banyak mulut lagi. Setuju kan?” katanya dengan geram.

“Bagaimana kakak pertama?” tanya lebah ketujuh yang paling patuh pada lebah pertama. Lebah pertama ragu untuk menjawab.

“Ini sudah harga diri keluarga yang diinjak-injaknya. Nenek moyang kita yang tidak tahu menahu disangkut-sangkutkan. Kalau tidak kita bela, bisa berdosa kita. Ayuh semua ikuti saya,” kata lebah ketiga sembari terbang meninggalkan sarang. Mau tak mau keenam lebah segera terbang mengikuti lebah ketiga .

Belalang yang masih bersantai itu tidak menduga kalau ketujuh lebah itu menjadi  marah karena ejekannya.  Tujuh lebah madu itu tiba-tiba sudah terbang dengan sangat cepat dan mengepung tempat bertengernya. Belalang itu merasa giris juga dengan dengungan sayap lebah yang sedang marah. Dia spontan melompat sekuat tenaga dan terbang menjauh, tetapi lebah-lebah itu terus mengejarnya.

Belalang itu berusaha mencari tempat persembunyian, namun ketujuh  lebah-lebah itu terus terbang mengikuti dan mulai menabrak serta menggigitnya. Bahkan karena saking marahnya, lebah ketiga langsung menyengatnya. Karuan saja bagian yang terkena sengat langsung bengkak.  “Aduh… Ampun… Jangan gigit aku. Jangan sengat aku..,” katanya sambil merintih-rintih. Belalang merasa sangat kesakitan dan hilang keseimbangan sehingga terjatuh dan hampir pingsan.

Namun, kejatuhan  belalang nyaris membawanya ke bencana. Dia terjebak di jaring laba-laba yang besar dan tidak bisa meloloskan diri. Ketujuh lebah madu merasa iba dan akhirnya memutuskan untuk membantunya melepaskan diri dari jaring laba-laba itu. Mereka memberikan madu dan ramuan penyembuh untuk meredakan rasa sakit dan membantu belalang sembuh.

Belalang itu merasa terkejut dan bersalah atas tindakannya sebelumnya. Dia meminta maaf kepada ketujuh lebah madu dan berjanji bahwa dia akan berubah menjadi lebih baik dan rendah hati. Ketujuh lebah madu memaafkan belalang dan mengajarkan kepadanya nilai-nilai kejujuran, kerendahan hati, dan saling menghargai. Belalang itu belajar bahwa tidak ada yang sempurna dan bahwa dia harus belajar untuk menerima kekurangannya.

Belalang itu belajar dari pengalaman tersebut dan merasa malu atas pengolok-olokannya terhadap lebah-lebah yang bekerja keras. Dia memutuskan untuk berhenti bergunjing dan mulai menghormati makhluk lain di hutan. Dalam waktu singkat, belalang itu berubah menjadi lebih baik dan menjadi teman yang baik dan setia bagi ketujuh lebah madu. Mereka menjadi sahabat yang selalu bersama dan saling mendukung satu sama lain.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa penting untuk selalu rendah hati dan menghargai orang lain. Kisah ini juga mengajarkan kita untuk tidak meremehkan atau mengolok-olok orang lain, karena kita tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan atau apa yang telah mereka capai. Selain itu, kita harus menghargai kerja keras dan dedikasi orang lain, dan tidak merasa bahwa kita lebih unggul dari mereka tanpa alasan yang jelas. Kesombongan dan keserakahan hanya akan membawa kita ke kehancuran. Jadi, mari kita belajar dari kisah belalang dan ketujuh lebah madu ini dan menjadi orang yang baik dan rendah hati.

(Ditulis  dengan strategi Tali Bambuapus Giri berbasis AI di Sampangan, Jumat,17 Februari 2023, dari pukul 15.30-16.30WIB).