Published On: 25 November 2023Categories: Artikel, Artikel Pendidikan, Artikel Populer, Berita, Headline, Kurikulum Merdeka

Oleh: Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo)

Ditulis dengan strategi Tali Bambuapus Giri

Pendahuluan

Seiring dengan peringatan Hari Guru Nasional yang ke-78 pada hari ini, tanggal 25 November 2023, mari kita coba merefleksikan diri tentang peran guru sebagai pilar utama dalam mewujudkan Merdeka Belajar. Sebuah jargon   yang terus digaungkan di tengah  tantangan literasi dan numerasi di kalangan pelajar Indonesia yang masih menjadi fokus perhatian, karena di tingkat dunia  posisinya dianggap  belum memuaskan. Sejalan dengan semangat kemerdekaan belajar, guru sebagai pembelajar sepanjang hayat dan autonomous learner atau  pembelajar mandiri  diharapkan menjadi kunci untuk mengatasi hambatan ini.

Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan juga sebagai pondasi peradaban yang membimbing manusia menuju kemajuan. Di era konektivitas teknologi yang semakin meningkat, peran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) menjadi semakin penting dalam membentuk dinamika pembelajaran. Perkembangan ini membawa kita pada suatu kenyataan yang krusial: guru yang tidak memahami atau enggan mengadopsi teknologi AI berisiko tertinggal dalam arus perkembangan pendidikan. Perubahan ini bukan hanya sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Sebagai agen utama dalam proses pendidikan, guru perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang peran AI dalam konteks pembelajaran. Mereka tidak hanya harus mengikuti tren teknologi, tetapi juga mengintegrasikan AI sebagai alat yang dapat meningkatkan pengalaman belajar baik bagi diri mereka maupun siswa. Ketidakpahaman terhadap teknologi ini dapat menyebabkan ketertinggalan, yang pada gilirannya dapat menutup pintu bagi para pendidik sehingga gagal mengadopsi kemajuan teknologi. Oleh karena itu, kesadaran akan urgensi pemahaman teknologi AI tidak hanya sebagai tren sementara, melainkan sebagai suatu keharusan strategis dalam membawa pendidikan menuju taraf yang lebih tinggi.

Guru dalam Ancaman Transformasi AI

Guru, yang dianggap sebagai pilar utama dalam proses pembelajaran, kini dihadapkan pada tantangan yang signifikan seiring dengan masuknya teknologi Kecerdasan Buatan (AI) ke dalam ruang kelas. Dinamika pembelajaran yang tradisional perlahan berubah dengan integrasi AI, memunculkan berbagai kemungkinan dan kebutuhan adaptasi. Guru yang mungkin belum sepenuhnya memahami potensi dan manfaat teknologi AI berisiko terpinggirkan dalam arus perkembangan pendidikan modern. Meskipun perubahan ini tidak bermaksud menggantikan peran guru, namun menuntut penyesuaian dalam metode pengajaran agar dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih baik dan lebih relevan bagi siswa.

Dalam konteks ini, guru dihadapkan pada tugas mendalam untuk meningkatkan literasi digital dan pemahaman mereka terhadap AI. Kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi ini dengan cerdas dapat membuka peluang baru untuk memberikan pendekatan pembelajaran yang berpotensi  lebih berdiferensiasi, dinamis, dan berkualitas  sesuai dengan kebutuhan siswa. Transformasi AI membawa perubahan signifikan dalam cara informasi disampaikan dan dipahami, dan guru yang mampu menyesuaikan metode pengajaran mereka dengan baik akan mampu memaksimalkan potensi teknologi ini untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran.

Di samping itu, ini juga merupakan panggilan bagi lembaga pendidikan dan pemerintah untuk memberikan dukungan yang memadai dalam pelatihan dan pengembangan guru terkait penggunaan AI. Sebagai contoh, dalam tiga bulan ini, mulai September sampai November 2023 Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah  sudah memberikan pelatihan penggunaan AI dalam pembelajaran. Sebanyak 1200 orang wakil kepala sekolah bidang kurikulum SMP menjadi peserta kegiatan Orientasi Teknis Literasi dan Numerasi yang di dalam materi pelatihannya diintegrasikan materi tentang penggunaan AI dalam pembelajaran.   

Investasi dalam pembekalan guru dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengintegrasikan teknologi ini ke dalam kurikulum operasional  tingkat satuan pendidikan  dapat menjadi langkah kunci dalam memastikan bahwa tidak ada guru yang tertinggal dalam era ini. Harapannya langkah yang sudah ditempuh oleh BBPMP Jawa Tengah untuk membuat para guru mulai melek AI ini dapat diikuti oleh institusi institusi yang lain. Dengan begitu, para pendidik dapat lebih percaya diri dan efektif menggunakan AI sebagai alat pembelajaran yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi perkembangan pendidikan.

Jika dihubungkan dengan zaman yang berubah secara drastis dengan hadirnya AI dan siap tidaknya guru beradaptasi dengan perubahan kita bisa mengambil pelajaran dari kehidupan dinosaurus. Tidak jauh berbeda dengan dinosaurus yang gagal berevolusi dan punah karena ketidakmampuannya beradaptasi dengan perubahan lingkungan, guru yang enggan memahami dan mengintegrasikan AI dalam pembelajaran mungkin akan menghadapi tantangan serupa, yaitu tertinggal dalam laju perkembangan pendidikan modern. Oleh karena itu, upaya peningkatan literasi digital dan pelatihan terkait AI sebagaimana yang sudah dilakukan oleh BBPMP Jawa tengah dapat menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan peran guru dalam proses pembelajaran yang semakin terdigitalisasi. Dengan semakin menguasai teknologi AI, guru dapat memainkan peran yang lebih efektif dan memberikan kontribusi positif pada pengembangan pendidikan di era yang terus berubah.

Menjadi Dinosaurus atau Bukan, Sebuah Pilihan

Mark Cuban, seorang pengusaha, investor, dan pemilik tim bola basket Dallas Mavericks di National Basketball Association (NBA) pernah menyatakan, “Kecerdasan buatan, deep learning, machine learning – apa pun yang Anda lakukan jika Anda tidak memahaminya – pelajarilah. Karena jika tidak, Anda akan menjadi dinosaurus dalam 3 tahun.” Dengan kutipan ini, Cuban menggarisbawahi urgensi memahami dan menguasai teknologi-teknologi mutakhir, seperti kecerdasan buatan, deep learning, dan machine learning. Ia memperingatkan bahwa ketidakpahaman terhadap perkembangan teknologi ini dapat mengakibatkan ketinggalan, menyiratkan konsekuensi serupa dengan nasib dinosaurus yang punah karena ketidakmampuannya beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kutipan ini mencerminkan kesadaran akan kebutuhan untuk terus belajar dan beradaptasi di era teknologi yang terus berkembang.

Perlu kita ingat bahwa perubahan adalah suatu kepastian. Sebagaimana dinosaurus yang kuat dan dominan pada masanya punah karena ketidakmampuannya beradaptasi, demikian juga guru-guru yang enggan atau lambat menyesuaikan diri dengan kehadiran Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) berisiko mengalami nasib serupa. Perubahan ini bukanlah penggantian peran manusia, tetapi lebih merupakan langkah untuk memperkuat keterampilan guru dan menciptakan sinergi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan.

Seiring dengan perkembangan AI, guru yang mau mengadopsi teknologi ini tidak hanya melindungi masa depan mereka sendiri. Sebaliknya, mereka juga memberikan kontribusi positif pada evolusi pendidikan secara keseluruhan. Pergeseran ini bukanlah tentang menggantikan peran manusia dalam pengajaran, tetapi lebih kepada memperkaya dan memperluas potensi manusia melalui penguasaan AI.

Dalam pandangan evolusi, dinosaurus yang gagal beradaptasi dengan perubahan lingkungan akhirnya punah. Begitu pula, guru-guru yang enggan mengeksplorasi dan mengintegrasikan AI dalam praktik pengajaran mereka dapat tertinggal jauh dalam perjalanan pendidikan. AI bukanlah pengganti manusia secara keseluruhan, melainkan katalisator untuk perkembangan dan peningkatan kemampuan manusia. Bahkan, manusia dengan penguasaan AI akan menjadi pionir di era ini, memimpin transformasi dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Guru-guru yang menguasai AI tidak hanya akan menjadi penjaga api inovasi, tetapi juga menggantikan posisi guru-guru yang tidak mengadopsi teknologi ini. Era AI bukanlah ajang penggantian, tetapi panggung bagi mereka yang siap beradaptasi dan memimpin perubahan.

Integrasi Budaya Belajar Sepanjang Hayat, Otonomous Learning dan Continuous Professional Development 

Pentingnya Continuous Professional Development (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) bagi para guru semakin menonjol seiring dengan transformasi dunia pendidikan yang dipacu oleh kehadiran kecerdasan buatan (AI). Tugas guru tidak lagi terbatas pada mengajar saja, melainkan juga mencakup pemahaman dan integrasi teknologi AI ke dalam metode pengajaran mereka. Oleh karena itu, perlu memberikan guru kesempatan untuk menguasai alat-alat AI yang relevan dengan konteks pendidikan mereka. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mempertahankan pekerjaan mereka, tetapi juga untuk memberikan manfaat maksimal kepada siswa. Dengan pemahaman yang mendalam tentang kecerdasan buatan, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih dinamis, responsif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Mengintegrasikan konsep budaya belajar sepanjang hayat dan autonomous learning atau belajar mandiri  (merdeka) berpotensi besar  menjadi kunci dalam  pengembangan  keprofesian berkelanjutan. Para guru perlu didorong untuk menjadi pelaku utama dalam perjalanan pembelajaran mereka sendiri. Ini melibatkan pembangunan semangat belajar mandiri dan kemampuan untuk terus berkembang sepanjang karir mereka. Konsep ini menciptakan lingkungan di mana guru bukan hanya penerima informasi, tetapi agen pembelajaran yang aktif, selalu mencari peluang untuk mengembangkan diri mereka. Dengan demikian, guru menjadi lebih siap menghadapi perubahan yang terus-menerus di dunia pendidikan dan dapat membimbing siswa dengan lebih baik menghadapi tantangan masa depan.

Konsep ini membawa tanggung jawab tambahan bagi guru sebagai agen pembelajaran. Mereka perlu proaktif mencari peluang pelatihan dan pengembangan diri yang sesuai dengan perkembangan teknologi AI. Pendidikan profesional bukan lagi hanya tentang memenuhi kebutuhan instansi pendidikan, melainkan juga tanggung jawab pribadi guru untuk terus memperbaharui pengetahuan dan keterampilan mereka. Dengan demikian, guru tidak hanya akan mengajar tentang teknologi AI, tetapi juga menjadi contoh hidup dari budaya belajar sepanjang hayat yang mereka anjurkan kepada siswa.

Integrasi Budaya Belajar Sepanjang Hayat, Otonomous Learning, dan Continuous Professional Development untuk Guru juga memberikan perlindungan terhadap ancaman perubahan. Dengan penekanan pada pengembangan diri yang berkelanjutan, guru dapat lebih siap dan mampu mengantisipasi perubahan dalam dunia pendidikan, sehingga mereka tidak mengalami nasib seperti dinosaurus yang gagal beradaptasi dan punah. Dengan demikian, pendekatan ini bukan hanya tentang memberdayakan guru untuk berinovasi, tetapi juga tentang melindungi masa depan profesi mereka. 

Selain memberikan manfaat langsung kepada guru, integrasi budaya belajar sepanjang hayat dan autonomous learning juga menciptakan dampak positif pada pengalaman pembelajaran siswa. Guru yang aktif dalam perjalanan pembelajaran mereka mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik dan melibatkan, di mana siswa didorong untuk mengembangkan semangat belajar yang sama. Oleh karena itu, selain menciptakan guru yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan, pendekatan ini juga meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Transformasi ini juga membawa sejumlah manfaat bagi siswa, termasuk pembelajaran yang berdiferensiasi, pemanfaatan AI dalam memahami kebutuhan dan potensi individual siswa, serta akses ke sumber daya pendidikan yang lebih luas, yang semuanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Penutup

Sebagai penutup, menyongsong masa depan pendidikan adalah suatu perjalanan yang memerlukan keberanian dan semangat evolusi. Guru-guru yang mampu menguasai kecerdasan buatan (AI) tidak hanya meneguhkan eksistensi mereka dalam dunia pendidikan yang terus berubah, tetapi juga menjadi pionir transformasi positif yang membawa pendidikan ke dimensi baru. Mereka adalah pelopor integrasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan, membentuk fondasi untuk lingkungan pembelajaran yang dinamis, adaptif, dan sangat relevan dengan tuntutan zaman.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kita dapat membayangkan kelas-kelas yang tidak hanya dipenuhi dengan pemahaman konsep, tetapi juga dengan kreativitas, pemikiran kritis, dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Guru tidak hanya menjadi fasilitator pembelajaran, tetapi juga mentor yang menginspirasi siswa untuk menjadi inovator masa depan. Dalam era ini, pembelajaran tidak lagi terbatas oleh batas kelas, tetapi melibatkan ekosistem global yang memanfaatkan potensi teknologi untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran yang tak terbatas.

Melalui integrasi budaya belajar sepanjang hayat, otonomous learning, dan continuous professional development, guru bukan hanya menjalani perjalanan pembelajaran seumur hidup mereka sendiri, tetapi juga membimbing siswa untuk menjalani perjalanan serupa. Dengan demikian, masa depan pendidikan bukan hanya tentang mengatasi tantangan saat ini, tetapi juga menciptakan landasan kuat untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan dan berkesinambungan.

Sebagai bagian dari perubahan ini, kita tidak hanya menyaksikan evolusi pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan. Dengan semangat kolaborasi dan kesediaan untuk terus belajar, kita dapat merangkul masa depan pendidikan sebagai sebuah perjalanan tanpa batas, yang tidak hanya mempersiapkan generasi mendatang untuk menghadapi dunia yang belum terungkap, tetapi juga memandu mereka untuk menjadi arsitek perubahan yang diperlukan. Selamat Hari Guru Nasional ke-78 dan terpujilah selalu guru Indonesia! -Dr. MRT.

***

(Penulis, Dr. MRT atau Dr. Mampuono R. Tomoredjo, M. Kom. adalah widyaprada BBPMP Jawa Tengah, Ketum PTIC (Perkumpulan Teacherpreneur Indonesia Cerdas), dan penggerak literasi dengan Strategi Tali Bambuapus Giri atau Implementasi Literasi Produktif Bersama dalam Pembuatan Pustaka Digital Mandiri Berbasis AI dengan memberdayakan metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Penulis juga pernah menjadi juara Guru Inovatif Asia Pasific Microsoft yang terus berbagi tentang penggunaan ICT Based Learning ).