Published On: 20 December 2023Categories: Berita, Berita Daerah, Headline

Purbalingga – – Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) (ATS) yang tinggi di Kabupaten Purbalingga menimbulkan kekhawatiran terhadap angka rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Purbalingga.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga meluncurkan Gerakan Mageh Padha Sekolah (GMPS) yang bertujuan untuk mengatasi masalah ATS tersebut. Waliwilayah BBPMP Jateng Kabupaten Purbalingga melaporkan bahwa penanganan ATS tetap jadi prioritas Pemkab Purbalingga.

Program GMPS yang telah diluncurkan oleh Bupati Purbalingga dan melibatkan seluruh elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, kader PKK, dan Pemerintah Desa (Pemdes) untuk bersama-sama mengatasi masalah anak tidak sekolah. Dalam program ini, seluruh kepala sekolah juga diminta untuk peduli dan mengatasi masalah ATS di lingkungan sekolahnya.

Gerakan GMPS dapat meminimalisir angka ATS di Kabupaten Purbalingga dan berpengaruh pada peningkatan IPM, serta kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut. Dengan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, Pemkab Purbalingga  dapat menciptakan daerah yang lebih baik di masa depan.

Menurut data terbaru yang dilansir dari Radar Banyumas menyebutkan bahwa hingga akhir tahun 2022 lalu, tercatat ada 3.292 ATS di Kabupaten Purbalingga, sudah tersalurkan ke 16 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan dipastikan untuk tahun 2023 akan terus menurun secara signifikan.

Rinciannya, sebanyak 1.710 ATS usia 7-18 tahun di 16 PKBM. Lalu yang di PKBM usia di atas 21 tahun ada 995 orang, usia 18-21 tahun ada 587. Pendataan untuk seluruh desa masih berjalan. Pendataan secara simultan melalui Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) ATS.

Mereka yang masuk ke PKBM didominasi Paket C (Setara SMA), lalu SMP dan SD. Nantinya, lulusan PKBM bisa melanjutkan ke sekolah regular. Sehingga harapan mereka sekolah pada umumnya bisa tercapai.

Gerakan Mageh Padha Sekolah (GMPS) yang digelar oleh Pemkab Purbalingga sebagai upaya  untuk mengatasi masalah anak tidak sekolah merupakan tindakan nyata dalam membangun sumber daya manusia di daerah tersebut. Dukungan dari seluruh elemen masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, kader PKK, dan Pemerintah Desa (Pemdes) tentunya sangat membantu dalam merespon masalah ATS di daerah tersebut.

Bergandengan tangan untuk mengatasi masalah ATS di Kabupaten Purbalingga, diharapkan dapat meminimalisir angka rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah serta meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hal ini merupakan tindakan strategis untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan menciptakan daerah yang lebih baik di masa depan.