Penulis Sedang Mengikuti Sesi Coaching and Sharing Waliwilayah di Gedung Ki Hajar Dewantara Lantai 3 BBPMP Provinsi Jawa Tengah

CIPTAKAN KOLABORASI DENGAN MENYADARI SOCIAL STYLE

Oleh: Ardiani Mustikasari

Social style adalah perilaku yang ditunjukkan seseorang saat berinteraksi dengan orang lain. Kita akan menemukan keberagaman perilaku orang lain yang ada di sekitar kita. Keberagaman yang ada merupakan kekuatan/asset apabila kita mampu menyikapi dengan baik.

Sebaliknya, keberagaman perilaku menjadi bumerang bila kita melihat dari sisi negatifnya, misal kita memandang perilaku seseorang yang bossy, tidak peka, mau menang sendiri, tidak terima salah, keras kepala, tidak sabaran. Orang lain kita pandang suka gossip, tidak tepat janji, plin plan, tidak tertib / rapi, menganggap enteng masalah. Orang lain lagi kita pandang sulit ambil keputusan, pasif, kurang inisiatif, lambat, suka menunda. Dan masih ada orang yang kita pandang pesimistis, mengeluh, mencari kesalahan, terlalu serius, tidak pernah puas, terlalu idealis. Dengan demikian kita tidak akan pernah merasa nyaman ketika berhubungan dengan orang lain.

Kita perlu memahami social style diri kita dan orang lain yang ada di sekitar kita. Ketika kita menyadari social style akan memudahkan berkolaborasi dan membangun hubungan baik dengan orang lain. Terdapat 4 gaya dalam berhubungan dengan orang lain, yaitu analytical, aimable, driver, expressive.

Seseorang dengan tipe analytical cenderung berorientasi pada tugas, pendiam (introvert), dan pasif dalam kelompok karena lebih suka bekerja sendiri. Sikap positif yang ditunjukkan adalah suka menunjukkan cara, teliti, transparan dan komprehensif.

Sedangkan sikap negatif yang sering ditemukan adalah menjemukan, terlalu detail, tidak mau ambil risiko dan tidak bisa mengambil keputusan.
Seseorang dengan tipe aimable cenderung berorientasi hubungan, pendiam (introvert), dan pasif dalam kelompok karena lebih suka bekerja sendiri. Sikap positif yang ditunjukkan adalah harmonis, melakukan konsensus, menyelesaikan masalah, dan memberikan kenyamanan. Sedangkan sikap negatif yang sering ditemukan adalah tidak berinisiatif memulai, tidak mau mengambil keputusan dan tidak mau ambil risiko.

Seseorang dengan tipe driver cenderung berorientasi tugas, terbuka menceritakan kejadian, pengalaman dan pengetahuannya (ekstrovert), dan agresif dalam berhubungan dengan orang lain. Sikap positif yang ditunjukkan adalah memberi hasil, menghasilkan tindakan, terorganisasi, dan memimpin. Sedangkan sikap negatif yang sering ditemukan adalah tidak sensitive, tidak peduli apa kata orang, tidak ramah, tidak mendengar, dan tidak sabar.

Seseorang dengan tipe expressive cenderung berorientasi hubungan, terbuka menceritakan kejadian, pengalaman dan pengetahuannya (ekstrovert), dan agresif dalam berhubungan dengan orang lain. Sikap positif yang ditunjukkan adalah antusias, ramah dan suka bergaul, kreatif dan inovatif, dan humoris. Sedangkan sikap negatif yang sering ditemukan adalah tidak terlalu banyak bicara, tidak mendengar, emosional, terlalu cepat mengambil keputusan dan bicara dulu baru berpikir.

Kita perlu melakukan flexing atau menyesuaikan social style agar dapat berhubungan baik dengan orang lain. flexing bukan berarti kita bersikap munafik, tetapi diartikan sebagai fleksibilitas perilaku dalam menghadapi keberagaman perilaku. Perilaku yang dapat ditunjukkan dalam menghadapi masing masing social style adalah sebagai berikut:
1. analytical adalah jangan terburu-buru, jangan membuang waktu, jawab semua pertanyaan, berikan bukti nyata dan solid, jangan memaksa (hard sell) dan jangan berjanji yang berlebihan (over promise).
2. amaible adalah santai, kecepatan sedang, aktif mendengar, kenali mereka, tunjukan ketertarikan pribadi dan selalu minta masukan / reaksi mereka.3. driver adalah cepat, langsung keintinya (to the point), gunakan fakta, bukan emosi, jelas, singkat, ringkas, jangan buang waktu, serta tawarkan opsi dengan data pendukung yang ringkas.                           4. expressive adalah bersemangat, ceria, cepat, biarkan mereka bicara, berikan waktu untuk bersosialisasi, izinkan bicara menyimpang / topik lain, berikan pilihan-pilihan, fokus pada gambaran besar.

Perilaku orang lain yang ada di sekitar dapat digambarkan dalam bentuk visual yang disebut sebagai power map. Power map membantu kita dalam memberikan informasi penting untuk membangun strategi berhubungan dengan orang lain. Strategi yang tepat dalam berhubungan dengan orang lain akan membangun kepercayaan. Pada akhirnya akan mudah memperoleh dukungan dan komitmen. Selain itu power map memampukan kita membuat rencana bagaimana menavigasi dalam mencapai tujuan organisasi.

Langkah melakukan power map adalah mengidentifikasi orang disekitar dan peranannya, identifikasi social style, Identifikasi sikap terhadap kita, tambahkan orang terkait lain, gambarkan garis hubungan pengaruh, tambahkan pihak-pihak lain yang berpengaruh.

Pemahaman social style dan power map menjadi strategi bagi seseorang dalam menjalin hubungan baik dan berkolaborasi dengan orang lain. Kemampuan berhubungan baik dengan orang lain menumbuhkan kepercayaan karena menunjukkan adanya kredibilitas, keandalan, kedekatan dan orientasi diri yang tanpa pamrih.