Published On: 11 March 2023Categories: Cerpen, Pojok Sastra

KALAP!

Oleh: Dr. Mampuono (Tali Bambuapus Giri)

Suasana di Kampung Widuri, desa Gebangsari, tenang dan damai. Terutama di musim penghujan ini, ketika sawah-sawah di sekeliling sangat subur dan sungai irigasi deras mengucur. Para petani bersyukur karena curah hujan yang cukup membuat sawah tadah hujan mereka menghasilkan panen yang melimpah. Selain bertani di sawah, warga di kampung Widuri biasanya juga memiliki ladang dan kebun di sekitar rumah. Ladang-ladang itu biasanya ditanami dengan palawija seperti jagung, kacang panjang, kecipir, terong, cabe, ketela pohon, ketela rambat, deleg, waluh, krai, ganyong, lerut, tomboreso, gembili, uwi, dan lain-lain. Mereka juga menanam kelapa dan siwalan sebagai hasil sampingan di kebun.

Di sebuah jembatan kayu tua, di pertigaan yang menghubungkan desa Ngablak dengan desa Gebangsari, aku dan kawan-kawan sedang menikmati keceriaan musim penghujan yang sudah lama kami nanti-nantikan. Kami berlima berenang di saluran irigasi sejak pulang sekolah tadi. Buku di dalam tas gombalan kami dan baju-baju kami kami letakkan di tempat yang kering di pojok dekat jembatan. Kami biasanya berenang telanjang bulat jika tempatnya jauh dari pemukiman, tetapi karena jembatan itu banyak untuk lalu lalang warga, kami memilih untuk berenang dengan masih memakai celana dalam jika ada, atau celana pendek jika tidak punya celana dalam.

Aku dan Nurkaji sudah keluar dari air duluan, sementara yang lain masih sibuk berenang. Mereka adalah Dikatul, Tiksanul, dan Yitkayun. Kami adalah 5 Sekawan yang sangat kompak. Kami kemana-mana selalu bersama, baik ke sekolah maupun bermain. Walaupun kami tidak semuanya berada di kelas yang sama tetapi kami sama-sama belajar di SD Gebangsari, sehingga berangkat dan pulang dari sekolah kami selalu bersama-sama.

“Wah, asik banget yah berenang di sungai ini ya Nur. Seru banget kan?” kataku sambil mengeringkan celana yang kuyup dengan cara memeras-merasnya.

“Iya betul, aku juga senang banget bisa berenang di sini. Tempatnya bagus dan airnya juga cukup jernih,” jawab Nurkaji.

“Iya benar, tapi aku dan kamu sudah keluar duluan nih. Mereka masih sibuk berenang semua ya,” kataku lagi.

“Iya, mereka memang senang berenang. Tapi kita kan sudah cukup puas berenang, mungkin bisa duduk di tepi sungai sambil menikmati pemandangan gunung dan bukit Gombel di sekitar sini,” usul Nurkaji.

“Oke, itu ide bagus. Sekalian ngobrol-ngobrol sambil menunggu mereka selesai berenang, kita juga bisa pesan jajan,” kataku menambahkan.

“Beres. Uang sakuku masih banyak. Tadi aku sudah pesan ke warung Yi Muri. Oya, kita memang selalu kompak sebagai 5 sekawan kan? Kita bisa bercerita dan tertawa bersama-sama,” kata Nurkaji bergembira.

“Betul, aku senang banget jadi bagian dari 5 sekawan ini. Kita bisa melakukan banyak hal bersama-sama,” aku setuju.

“Iya, sama-sama saling mendukung dan memiliki banyak kenangan indah bersama. Bagaimana kalau nanti kita ajak mereka untuk duduk bersama-sama di tepi jembatan ini?” tanya Nurkaji.

“Betul boss!” kataku sambil memberi dua jempol. Nurkaji tertawa terbahak dipanggil Boss.

Kami sementara rehat dulu, setelah makan kudapan kami akan berenang lagi. Kami duduk bersebelahan sambil menikmati badak hangat. Kami bertelanjang dada dan celana pendek kami masih basah. Kami duduk bersantai di tepi jembatan. Kakiku dan kaki Nurkaji menjuntai ke bawah jembatan.

Di antara kami berdua tergeletak beberapa lembar daun pisang tempat meletakkan jajan yang kami beli, dan sebuah kendi atau tempat air minum dari tanah liat. Karena kantong plastik masih jarang di pedesaan, gorengan itu diberi alas daun pisang. Cabe rawit yang jadi lalapan berserakan di atas daun pisang. Cabe rawit itu masih katutan daun cabe karena pagi ini baru saja dipetik dari kebun oleh yang empunya warung.

“Hoi. Jangan lupa aku dingengehi lho!” pesan Dikatul dari sebelah sungai yang agak jauh. Dia minta supaya jajan itu tidak kami habiskan. Setelah berteriak dia segera menyelam lagi.

“Yoh! Beres!” teriak Nurkaji keras-keras, berharap Dikatul mendengarnya. “Pokoknya kalau gak cepet-cepet ya tahu sendiri lah. Anggaran terbatas, hehehe…” kata Nurkaji sambil tersenyum simpul. Kami tertawa-tawa membayangkan Dikatul yang sering kecewa karena kebagian sisa.

Nurkaji uang sakunya lumayan banyak. Belakangan ini orang tuanya berjualan kelontong di Widuri, kampung di mana kami tinggal. Modalnya dari hasil penjualan tembakau yang dipanen dari ladangnya yang ada di Kampung Selatan kemarau yang lalu. Kabarnya mereka panen raya ketika harga tembakau sedang bagus-bagusnya.

Nurkaji mentraktir kami membeli gorengan itu di warung Yi Muri yang lokasinya ada di seberang jembatan di mana kami sering berenang. Makanan favorit kami berlima adalah badak dengan lalapan cabe rawit, tetapi tentu saja kami tidak menolak Kalau kami ditraktir untuk menikmati jajan yang lain. Makanya biasanya jajan yang kami beli selalu didominasi oleh badak, baru sisanya dilengkapi dengan jajan-jajan yang lain.

Badak buatan Nyi Partik, isteri Yi Muri, terkenal enak. Lokasi warungnya yang dekat dengan jembatan menguntungkan kami yang sering kelaparan saat terlalu lama berenang. Warung itu juga merupakan warung jujugan. Warung itu adalah salah satu dari tiga warung favorit yang ada di desa kami yang menjadi tujuan warga untuk mencari makan atau kudapan di tahun 1978 ini. Dengan uang lima puluh rupiah kami sudah dapat 10 buah macam-macam gorengan. Ada badak, blanggem, klenyem, lentho, gelek, kue maha, dan lain-lain.

Warung Yi Muri terkenal murah dan enak masakannya. Lokasinya yang strategis juga menjadi tempat persinggahan bagi para penduduk kampung kami yang berlalu lalang menuju dan dari kota. Bila musim penghujan, banyak penduduk desa yang memanggul sepeda dari kampung karena jalannya berlumpur. Nanti setelah sampai di dekat warung Yi Muri mereka akan menurunkan sepedanya dan mencuci kaki. Sambil bersih-bersih mereka bisa memesan sarapan atau kudapan lainnya. Setelah melewati warung Yi Muri mereka melanjutkan ke jalan menuju ke kota yang tidak becek dan berlumpur lagi.

Menu yang paling terkenal di warung Yi Muri adalah sega kering. Yaitu nasi putih dengan lauk oseng tempe. Entah bagaimana cara mengolah dan memberi resep rahasia, nasi kering itu lezatnya luar biasa dan digemari oleh masyarakat bahkan sampai di luar desa. Hanya dengan uang lima belas rupiah kami sudah bisa menikmati nasi kering Yi Muri yang terkenal itu. Ditambah sepuluh rupiah kami sudah bisa menikmati kopi tubruk dan satu gorengan ataupun kerupuk terung.

Kami segera menikmati kudapan yang baru saja dibeli Nurkaji dengan lahapnya. Badak Yi Muri masih hangat dan lezat rasanya.

“Wah, senangnya bisa rehat sejenak setelah berenang. Tadi aku hampir kelelahan berenang terlalu lama,” aku berkata tidak jelas karena mulutku penuh badak. Aku kelaparan setelah hampir satu jam berenang.

“Hehehe… Jangan ngomong kalau lagi makan. Minum dulu nih. Ini kendinya. Airnya segerr…” kata Nurkaji sambil menyodorkan kendi. Aku segera menenggak minuman dingin alami itu. “Iya, memang perlu diambil waktu istirahatnya biar tidak capek. Kita bisa menikmati kudapan dan minuman dingin ini,” sambung Nurkaji.

“Betul banget. Kudapan ini enak dan dan air kendinya segar. Badaknya hangat juga cocok banget dimakan setelah berenang,” kataku menyetujui.

“Iya, badaknya memang rasanya lezat. Aku jadi lebih semangat lagi untuk berenang nanti,” kata Nurkaji.

“Sama, aku juga ingin kembali berenang. Walaupun celana pendekku masih basah dan kaki-kakiku masih terasa dingin,” kataku menimpali.

“Ya, celana pendekku juga masih basah. Tapi tak apa, kita masih bisa berenang dengan nyaman,” kata Nurkaji.

“Bener juga sih, toh kita hanya berenang di sungai ini. Bagaimana dengan kakimu, Nurkaji? Sudah enggak kedinginan?” tanyaku.

“Nggak kok. Jembatan kayu ini hangat. Dengan duduk di jembatan dan kaki-kakiku menjuntai ke bawah jembatan ini, jadi tidak terlalu dingin. Sinar matahari sejak tadi kan arahnya malah ke bawah jembatan.” kata Nurkaji.

“Oh, gitu ya. Sama dengan kakiku juga. Kita bisa menikmati pemandangan di sekitar sambil menunggu basah-basah di celana pendek kita kering,” kataku.

“Iya, pemandangan di sekitar sini memang indah banget ya. Ada gunung dan bukit yang tampak jelas dari sini. Sungainya juga cukup jernih walaupun airnya cukup deras. Tapi ini menantang sih buat kita-kita yang suka berenang hehehe… Berenang jadi seru,,” kata Nurkaji sambil menepuk dada.

“Hahaha…betul. Eh Nur, kamu lihat gunung di depan itu?” tanyaku kemudian. Nurkaji mengangguk. “Jika malam tiba, pemandangan gunung Ungaran yang berlatar depan bukit Gombel terlihat dengan ribuan sinar lampu yang seperti bintang sangat indah lho…” kataku.

“Wah, kamu beruntung bisa melihat pemandangan yang indah seperti itu. Aku juga suka memandangi gunung, tapi sayangnya di sekeliling rumahku banyak sekali pohon tinggi dan hutan bambu,” jawab Nurkaji.

“Ya, memang sangat indah. Namun, pada musim hujan seperti ini, aliran sungai di mana kita sering berenang ini menjadi lumayan deras. Warna airnya menjadi agak kuning kecoklatan dan bertambah agak keruh karena debitnya bertambah,” kataku. Nurkaji mengangguk-angguk.

“Hujan semalaman yang baru berhenti tadi pagi juga membawa berbagai kotoran yang terbawa dari hulu menuju ke hilir sungai. Derasnya air menyebabkan lumpur dan tanah di sekeliling sungai yang tergerus semakin banyak,” kataku mencoba menjelaskan seperti Pak Darmo guru kelas kami.

“Hehe… Kamu sudah kayak guru Lik Mampu. Oh ya, itu tidak terdengar bagus. Harusnya kita menjaga kebersihan sungai agar tidak tercemar ya?” kata Nurkaji.

“Betul sekali. Sungai irigasi yang memisahkan desa Gebangsari dengan areal persawahan akan bertemu dengan sungai Tenggang yang lebih besar dan bermuara di Tambak Lorok. Bertemunya air sungai dengan air asin akan mengendapkan lumpur sehingga membentuk semacam pulau kecil di muara,” kataku lebih merinci informasi.

“Oh, jadi begitu ya. Aku belajar banyak tentang aliran sungai dari kamu Lik Mampu. Terima kasih sudah berbagi,” kata Nurkaji lagi.

“Sama-sama, Nur. Kita harus menjaga kebersihan alam sekitar kita agar tetap lestari untuk generasi yang akan datang. Oh iya, kalau sudah cukup istirahat, kita bisa kembali berenang lagi ya?” tanyaku.

“Oke, ayo kita panggil teman-teman dulu. Kita nanti berenang lagi. Setelah kudapan dan badak hangat ini, aku yakin mereka semangat lagi untuk berenang!” kata Nurkaji bersemangat.

Dari jauh terlihat Yitkayun dan Tiksanul sudah keluar dari air dan bermaksud bergabung dengan kami. Sementara Dikatul masih asyik berenang sambil gogoh ikan lundu wejahan. Itu adalah sejenis ikan rawa atau bendungan yang bentuknya mirip ikan lele namun lebih pendek dan perutnya gendut. Ikan itu biasanya ikut terbawa arus pada saat terjadi hujan besar.

“Tolong…. Tolooooong…… Anakku kalaaap….” tiba tiba terdengar suara perempuan meminta tolong di kejauhan.

“Loh itukan mbak Nem. Astagfirullah, ada apa itu?” kataku terperanjat begitu tahu sosok perempuan itu adalah istri Pak Samran tetanggaku.

“Anakku Dewi…. Anakku Dewi kalap… Ia terbawa arus. Toloooong… tolong selamatkan dia… hu..hu..hu…” wanita itu menangis sejadi-jadinya. Anak semata wayangnya rupanya terseret arus. Beberapa warga mencoba menenangkan mbak Nem. Sementara yang lain berusaha menolong anak perempuan itu dengan memberikan batang bambu agar bisa diraih Dewi, namun tidak berhasil.

“Ada anak kecil tercebur ke sungai. Kalap! Kita harus segera membantu!” kataku pada yang lain.

“Benar, kita tidak boleh tinggal diam.” kata Nurkaji.

“Aku akan berenang ke sana!” Kata Dikatul sambil mencebur ke sungai lagi.

“Hati-hati Dikatul!” teriakku.

“Yitkayun, kamu ahli renang kan? Kamu harus membantu Dikatul!” kataku mengingatkan.

“Siap! Ayo ikuti aku!” kata Yitkayun sigap.

Kami semua berlari ke tepi sungai dan melihat Dikatul dan Yitkayun berenang ke arah anak kecil itu. Anak perempuan itu terlihat berusaha berenang di tengah arus sambil menangis meminta tolong. “Tolong, tolong aku!” teriaknya sambil tangannya menggapai-gapai.

Dikatul berhasil mendekat dan berusaha menyelamatkan gadis kecil itu dengan memegangi tangannya. Namun pusaran arus di dekat jembatan terlalu deras. Daerah tersebut cukup berbahaya karena ada palungnya. Walaupun tidak terlalu dalam, namun dalam kondisi arus yang deras cukup merepotkan juga. Pegangan Dikatul terlepas karena ia kurang antisipasi menghadapi pusaran air. Untung Yitkayun sigap. Dengan keahliannya dia sudah berada di dekat Dewi, gadis kecil yang terbawa arus itu.

“Dewi!” Yitkayun memanggil nama gadis kecil itu. “Jangan takut, kami akan menyelamatkanmu! Pegang tali ini” katanya sambil melemparkan gulungan tali pramuka yang selalu dibawanya.

Dari tepi sungai aku melihat Dewi yang berjuang keras untuk bertahan hidup di tengah arus yang deras. Yitkayun dan Dikatul sedang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Dewi, tetapi mereka kewalahan. Pusaran air terlalu besar. Keadaan Dewi benar-benar dalam bahaya. Tali Pramuka Yitkayun tidak terlalu bisa menolongnya.

“Nurkaji, kita harus bergerak cepat sebelum terlambat! Mari kita cari cara untuk menyelamatkan Dewi!” kataku pada Nurkaji.

“Tapi bagaimana caranya?” tanya Nurkaji bingung.

“Aku punya ide, kita bisa mencoba membuat tali dari pakaian kita untuk menjangkau Dewi, Dikatul, dan Yitkayun. Kita juga butuh bantuanmu dan orang-orang di sekitar sini untuk membentuk rantai manusia agar bisa menarik mereka ke tepi sungai,” jawabku dengan cepat.

“Baik, mari kita mulai sekarang,” ucap Nurkaji yang bertubuh bongsor sembari berlari mengambil bajunya untuk membuat tali. Aku dan para warga yang laki-laki terutama, mengikuti langkah Nurkaji.

Sementara itu, Mbak Nem terus menangis dan berdoa agar anaknya bisa selamat. Nurkaji membantuku untuk membentuk rantai manusia dengan mengarahkan para warga agar bisa berbaris sejajar dan saling bergandengan tangan.

Kami akhirnya berhasil menjangkau Dewi, Dikatul, dan Yitkayun dengan tali yang kami buat dan menariknya ke tepi sungai dengan bantuan rantai manusia yang kuat. Setelah Dewi selamat, Mbak Nem langsung memeluk dan mencium anaknya sambil berterima kasih kepada kami dan warga yang membantunya.

Ibu anak perempuan itu tak henti-hentinya berterima kasih.

“Terima kasih banyak, kalian semua benar-benar menyelamatkan anakku. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas budi baik kalian,” ucap Mbak Nem sambil meneteskan air mata bahagia.

“Tidak perlu membalas Mbak Nem, kami hanya melakukan kewajiban kami sebagai sesama manusia dan tetangga yang baik. Yang penting Dewi selamat,” jawabku sambil tersenyum lega.

“Tidak perlu berterima kasih Mba, kami hanya melakukan kewajiban kami sebagai manusia yang peduli dengan sesama,” kata Yitkayun bijak.

“Benar, kita harus selalu siap membantu orang lain dalam keadaan apapun. Itu adalah tugas kita sebagai manusia,” Nurkaji ikut ikutan berkata bijak. Tidak percuma kami yang terbiasa mengaji di Langgar mbah Mungsal bisa mengamalkan pelajaran agama yang sudah kami peroleh.

“Semoga putri Jenengan tersebut cepat pulih dan tidak mengalami trauma, Mba,” kataku menambahkan.

“Ya, terima kasih sekali lagi. Kalian adalah pahlawan sejati bagi keluarga kami,” kata Mbak Nem sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Kami pun merasa senang bisa membantu dan menyelamatkan Dewi. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan dan menjadi pelajaran bagi kami untuk selalu siap membantu orang lain dalam situasi darurat.

Mbak Nem akhirnya membawa pulang Dewi dengan diantar warga. Allhamdulillah Dewi sehat wal afiat tak kurang suatu apa. Dia hanya terkejut karena ketika bermain di tepi sungai tiba -tiba terpeleset dan terbawa arus. Namun tindakan sigap teman-teman membuat semuanya baik-baik saja.

Kami berlima akhirnya beristirahat sejenak sambil menghabiskan kudapan. Dikatul yang sangat hobi masuk air hanya di darat sejenak. Setelah satu buah badak dan separuh gelek masuk perutnya, ia sudah mencebur ke sungai lagi. Kami tentu tidak mau ketinggalan. Kami sepakat untuk berenang di tempat yang lebih sepi dan airnya lebih dalam. Tempat itu berada di dekat kebun Lik Muin di sebelah selatan. Tempat itu sungainya lebih dalam karena tanah di sekitarnya menggunung. Menurut cerita warga setempat, konon dulu ada seorang wali menyabda daerah itu menjadi gunung, tetapi ketahuan warga, sehingga akhirnya batal. Namun ternyata tanahnya sudah terlanjur menggunung sebagian, sehingga daerah tersebut terlihat berbeda dari yang lain.

Kami segera melepas baju dan celana kami lalu langsung terjun ke dalam air sungai.Suara tawa dan teriakan kami terdengar sampai ratusan meter jaraknya. Kami bermain petak umpet dengan cara menyelam dan menghilang. Nasib sial sering menimpa Dikatul. Dia sering kalah saat undian hompimpah. Dia mendapat peran menjadi polisi yang harus mencari dan mengejar kami.

Ditengah asiknya kami bermain , tiba-tiba terdengar suara keras dari arah selatan sungai.

“Hoi… awas ada pisang goreng…!” teriak Dikatul yang sedang berenang di arah itu. Dia sudah berenang menepi lalu naik ke atas tebing sungai.

“Apa yang terjadi?” tanyaku dengan rasa penasaran sambil spontan berenang menepi.

“Ada pisang goreng yang jatuh ke sungai, jangan sampai kalian terpeleset dan terbawa arus karena menyelamatkannya,” jawab Dikatul cengar-cengir sambil melompat lagi ke sungai dan berenang menjauh ke tepi sungai yang berseberangan dengan posisiku.

Sementara itu, Tiksanul yang sedang berenang di dekat pohon gayam begitu mendengar teriakan Dikatul di sungai segera berenang mendekatiku. “Ada apa di sana?” tanya Tiksanul.

“Pisang goreng jatuh ke sungai, Dikatul memperingatkan kita semua,” jawabku serius. “Kalian harus berhati-hati, sungai ini tambah deras pada musim penghujan,” tambahku.

“Terima kasih atas peringatannya, Lik Mampu,” ucap Tiksanul dan sambil mengangguk.

“Hoi! Awas!! Pisang gorengnya panjang-panjang…!” kembali terdengar Dikatul berteriak lebih keras dari yang tadi. Kali ini dia sudah berada di tebing sungai lagi. Anak ini memang paling suka naik turun tebing sungai dan melompat ke air. Dan itu diulang-ulangnya dengan bersemangat.

“Semuanya minggir!!! Awas bahayaaa!” Nurkaji menimpali sambil tertawa-tawa. Kali ini dia merangkak kepinggir sungai. Lalu dia berlari melawan arah arus sungai. Tubuhnya yang telanjang polos tampak mengkilat terkena sinar matahari yang sudah mulai condong ke barat. Sejurus kemudian tubuh telanjangnya sudah kembali mencebur ke dalam sungai.

Aku dan Tiksanul yang mendengar teriakan Dikatul dan Nurkaji segera menyadari. Ternyata kami tadi dikerjai.

“Asem tenan!’ umpatku ke mereka. “Padahal aku menganggap serius keterangan Dikatul saat pertama membahas pisang goreng tadi,” kataku sambil geleng-geleng kepala.

“Iya.” balas Tiksanul “Aku kira benar-benar pisang goreng sungguhan. Ternyata pisang goreng ajaib. Ayo kita minggir dulu. Biarkan pisang gorengnya lewat dulu. Nanti kita ambyur lagi,” kata Tiksanul sambil nyengir.

Diikuti Tiksanul, aku segera bersiap diri. Tanganku segera berpegangan kepada rumput-rumput yang tumbuh di pinggir sungai. Arus air yang lumayan deras bisa saja menarikku ke tempat yang lebih dalam jika aku tidak berpegangan. Kami berdua segera keluar dari sungai dan berdiri di tebing. Di seberang sungai yang agak jauh aku lihat Nurkaji dan Dikatul juga sudah berada di tebing sungai.

Tidak lama kemudian serombongan benda benda terapung berwarna kuning kecoklatan dengan bentuk melengkung lewat seperti pasukan baris-berbaris. Yitkayun saat itu berenang agak menjauh. Selain jago berenang ia juga jago penyelam. Kebetulan karena sedang asyik menyelam ia tidak mendengar teriakan Dikatul dan Nurkaji. Aku sudah sangat khawatir dengan hal ini.

Semua mata memandang ke arah Yitkayun menyelam. Dia bisa bertahan dengan kepala di bawah permukaan air selama bermenit-menit. Seperti katak, di satu tempat dia menghilang, tiba-tiba di tempat lain dia sudah muncul. Jika di bawah air kecepatan berenangnya jadi berlipat ganda.

“Dul…! Prull…!” Kepala yang baru keluar dari air itu tepat menyundul benda yang disebut sebagai pisang goreng itu sehingga hancur berkeping keping. Rupanya Yitkayun sedang nahas. Kepalanya menanduk kotoran manusia.

“Brr..! Hoek…!” Yitkayun yang ketiban sial berakting seperti mau muntah.

“Kurang Asem itu orang yang buang hajat sembarangan. Kudoakan semoga perutnya mules dan mèncrèt-mencret!” Umpatnya geram.

“Hahahahahaha….” Kami berempat tertawa terpingkal pingkal melihat pertunjukan gratis itu. Kami kasihan melihatnya tapi lucu sih. Jadinya kami tertawa sebelum tertawa dilarang.

Sebetulnya pengalaman semacam itu banyak dialami oleh anak-anak desa yang lain ketika berenang di sungai irigasi itu. Hanya saja kejadian naas itu memang sedang menjadi rejeki Yitkayun. Cepat-cepat ia menyelam dan menyingkir ke tempat yang aman. Begitu muncul lagi kepalanya ia sudah mengomel seperti nenek-nenek kehabisan sirih. Ia menyalahkan kami karena tidak memberi peringatan.

Aku, Nurkaji, Yitkayun, Dikatul dan Tiksanul melanjutkan berenang di saluran irigasi sampai menjelang Ashar. Kami melanjutkan bermain petak umpet dengan lebih seru. Kami terus berenang dan berlarian di dalam air, tidak menyadari bahwa kami sedang melakukan sesuatu yang salah dan diintai dari kejauhan.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kejauhan, dan kami melihat Pak Bayan berlari ke arah kami sambil mengacung-acungkan sabit di tangannya.

Pak Bayan: “HOI…BISA MENTAS TIDAK?! KELUAR DARI AIRRR…. ATAU KALIAN KULAPORKAN PAK LURAH?! KALIAN ANAK-ANAK BANDEL YAA…!!!”

“Hei..lihat ada Pak Bayan! Ayo kabuuurr..!” Dikatul yang pertama kali melihat Pak bayan di kejauhan berteriak memperingatkan yang lainnya. Ia segera mengemasi barangnya dan mengambil langkah seribu.

Demi melihat orang tua yang jalannya agak pencor (tidak seimbang, salah satu kakinya diseret) itu mendatangi kami sambil mengancam, kami segera keluar dari dalam sungai. Kami berlari terbirit-birit ke arah pakaian kami masing-masing. Tanpa pikir panjang, dalam kondisi telanjang bulat, sebagian dari kami segera kabur menjauh ke tengah sawah. Mereka berlari secepat-cepatnya seolah-olah seperti terbang.

Pakaian seragam sekolah, buku, pensil, penghapus dan lain-lain yang kami letakkan di dalam tas gombal (tas dari bahan rajutan) masih bisa kami pegang dan kami selamatkan sebisanya. Jika barang-barang kami sampai disita pak Bayan, alamat bakal runyam.

Sayangnya aku dan Yitkayun sedang kebagian bernasib sial. Buku dan baju kami tiba-tiba sudah di tangan Pak Bayan. Kami tertangkap basah. Pak Bayan memandangi kami berdua sambil mendelik dan berkacak pinggang.

“Bagus ya! Kalian berdua akan aku laporkan kepada pak Lurah. Biar orang tua kalian dipanggil dan diberi pembinaan!” ancamnya sambil mengacung-acungkan sabit berkarat. Kami ngeri juga melihatnya.

“Ja… jangan Pak. Ampun Pak. Jangan dilaporin Pak…” kata Yitkayun memelas. Kulihat wajah Yitkayun pucat pasi. Dia tidak bisa membayangkan jika ayahnya yang orang terpandang sampai dipanggil ke Kelurahan gara-gara anaknya melanggar peraturan desa. Dia pasti akan dimarahi habis-habisan dan diberi hukuman setimpal. Mungkin dia tidak boleh bermain-main bersama kami lagi.

“Maaf Pak Bayan, kami tidak tahu kalau tidak boleh berenang di sini. Kami hanya ingin bermain petak umpet,” kataku memberanikan diri.

“Iya Pak, kami tidak sengaja melanggar aturan. Kami minta maaf. Kami janji tidak akan mengulangi lagi,” sambung YItkayun menimpali.

“Hmm… Ini bukan tempat bermain-main anak-anak, tahu? Saluran irigasi ini penting bagi petani di desa kita. Jika terganggu, maka pertanian mereka bisa terancam. Kalian harus berhenti berenang atau bermain-main di daerah ini seterusnya. MengertI?” kata Pak bayan tegas.

“Ya Pak bayan. Kami mengerti,” jawab kami dengan wajah tertunduk. Kami merasa malu karena telah melanggar aturan dan membuat Pak Bayan marah.

“Ini barang-barang kalian. Kemasi dan segera pergi dari sini sekarang juga!” kata Pak bayan sambil menyerahkan barang-barang kami.

“Maaf Pak Bayan, kami akan lebih memperhatikan lingkungan sekitar dan tidak akan mengganggu saluran irigasi lagi. kami janji tidak akan mengulangi lagi. Kami akan lebih memperhatikan lingkungan dan mencegah kerusakan yang terjadi,” kataku mewakili yang lain.

“Iya Pak, kami minta maaf atas kesalahan kami. Kami akan lebih bertanggung jawab dengan lingkungan di sekitar kami,” kata Yitkayun.

Pak Bayan berkata, “Baiklah, saya percaya kalian. Tapi ingat, jangan pernah mengganggu saluran irigasi lagi. Ini untuk kebaikan bersama.”

Aku dan Yitkayun mengangguk serentak sebagai tanda kesepakatan kami untuk tidak mengganggu saluran irigasi lagi. Kami berjanji untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar dan tidak merusaknya.

Setelah memastikan aman dari kemarahan Pak Bayan, kami segera mengenakan kembali pakaian kami lalu berlari pergi, menyusul tiga teman kami yang lain yang sudah nggendring duluan jauh ke tengah sawah. Dari jauh terlihat perangkat desa yang sudah tua ini masih mengomel panjang pendek sambil memperbaiki tanah pematang yang kami injak-injak tadi.

Tiga teman kami hanya ketawa-ketiwi tanpa dosa sambil mengolok-olok aku dan Yitkayun.

Saat kepala Pak Bayan menoleh ke arah kami di kejauhan, kami seperti melihat hantu saja. Kami segera menyusup ke arah dapuran pisang yang tumbuh di pematang sawah di belakang sekolah kami itu.

“Yit. Kamu takut gak sama Pak Bayan?” tanyaku pada Yitkayun.

“Takut sih…” jawabnya sambil cengengesan.

“Takut kok cengengesan..?” tanyaku menyambung keheranan.

“Kalau pas orangnya datang sih aku takut. Tapi kalau pas dia pergi enggak lagi,” kata Yitkayun sambil tersenyum lebar.

“Ooo… Dasar!” umpatku.

“Sungai ini kan sangat panjang, Bagaimana kalau kita cari tepian sungai yang lain untuk berenang lagi?” usul Nurkaji kepada yang lain.

Yang lain mulai ragu dengan tawaran Nurkaji. Dikatul tampak termenung bimbang. Sementara Yitkayun sudah kapok. Sedangkan Tiksanul, seperti aku, juga memelihara kambing di rumah. Kambing-kambing itu butuh perawatan dari kami. Kami takut ayah kami marah besar kalau sampai menelantarkan piaraan kami.

Selain itu aku tadi merasa kebat-kebit ketika menghadapi Pak Bayan. Aku tidak ingin mengulangi pengalaman yang sama di masa datang. Aku juga sudah berjanji pada Pak Bayan untuk tidak merusak saluran irigasi. Maka aku memutuskan untuk pulang. Lagian si Jansen,kambing jantanku, butuh asupan rutin untuk makan.

Nurkaji dan Dikatul memutuskan untuk mencari tempat baru dan mulai berenang lagi. Aku menyarankan mereka berenang di tempat yang tidak menyebabkan kerusakan saluran irigasi. Sementara aku, Tiksanul dan Yitkayun memutuskan untuk pulang. Kami takut jika sampai kambing-kambing kami terlantar kami akan diomeli oleh orang tua kami.

Apakah anak-anak desa kami kapok dengan serbuan dari Pak Bayan? Ternyata tidak. Buktinya begitu Pak Bayan sudah tidak terlihat batang hidungnya, tempat yang kami gunakan untuk berenang siang tadi sudah ramai lagi oleh anak-anak yang lebih besar. Nurkaji dan Dikatul bahkan bergabung di sana. Tapi tunggu sebentar. Ternyata mereka sedang bekerja bakti, membantu Pak Bayan dan Pak Lurah serta beberapa aparat desa untuk menata batu-batu kali sehingga tebing sungai lebih kuat dan tidak mudah runtuh lagi.

__________________________________

Sampangan, 28 11 2018 16.15 WIB

Ditulis dengan metode Menemu Baling , menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga dalam program Tali Bambuapus Giri, diedit dan direvisi di atas Citilink Semarang-Jakarta dan disempurnakan di Sampangan Semarang.

Keterangan Istilah:

    • ambyur = mencebur ke air dengan cara melompat
    • badak = bakwan, gorengan tepung terigu dengan campuran sayur
    • blanggem = singkong goreng
    • deleg, waluh, krai (jenis labu-labuan)
    • dingengehi = disisakan
    • ganyong, lerut, tomboreso, gembili, uwi (jenis umbi-umbian)
    • gelek = sejenis gorengan dari bahan terigu
    • gogoh = mencari ikan dengan tangan kosong
    • hompimpah = mengundi dengan beradu telapak tangan terbuka dan tertutup
    • jujugan = tempat tujuan
    • kalap = hanyut terbawa arus
    • katutan = ikut tercampur
    • klenyem = gorengan dari bahan singkong parut yang di dalamnya diberi gula merah
    • Menemu Baling = metode Menulis dengan Mulut dan Membaca dengan Telinga
    • nggendring = berlari kalang kabut
    • Tali Bambuapus Giri = Implementasi Literasi Produktif Bersama dalam Pembuatan Pustaka Digital Mandiri
    • tas gombal = tas warna warni dari bahan benang rajutan yang jadi trend tahun 70-an